x

banner 300250

Pita Putih Indonesia Gelar Webinar Hari Kartini, Soroti Pernikahan Remaja dan Komplikasi Maternal

4 minutes reading
Wednesday, 13 May 2026 14:51 68 Amin

JAKARTA — Peringatan Hari Kartini 2026 dimaknai secara berbeda oleh Pita Putih Indonesia (PPI). Tidak sekadar mengenang perjuangan emansipasi perempuan, organisasi yang selama 27 tahun bergerak dalam isu kesehatan ibu dan anak itu mengajak masyarakat melihat persoalan yang masih mengancam perempuan Indonesia hingga hari ini, yakni pernikahan remaja dan tingginya risiko komplikasi maternal.

Melalui webinar nasional bertajuk “Refleksi Semangat Kartini dalam Memutus Rantai Pernikahan Remaja dan Komplikasi Maternal”, PPI menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan harus dimulai dari pemenuhan hak kesehatan reproduksi dan keselamatan ibu saat melahirkan.

Kegiatan yang digelar secara daring tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, organisasi masyarakat, hingga pemangku kebijakan. Hadir pula Ketua Umum Pita Putih Indonesia, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., serta Ketua Harian PPI, dr. Heru Kasidi, M.Sc., yang memberikan dukungan terhadap penguatan gerakan bersama dalam melindungi perempuan dan generasi muda Indonesia.

Dalam pembukaan webinar, PPI mengingatkan kembali perjalanan hidup Raden Ajeng Kartini yang selama ini dikenal sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia. Di balik gagasan besar tentang emansipasi, Kartini meninggal dunia pada usia muda, empat hari setelah melahirkan, yang diduga akibat komplikasi pre-eklampsia.

Menurut PPI, fakta sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan maternal masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Hingga kini, komplikasi kehamilan dan persalinan masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ibu.

“Semangat Kartini bukan sekadar simbol atau seremoni tahunan. Semangat itu harus diwujudkan dalam keberanian melindungi perempuan dari risiko yang mengancam masa depannya, termasuk praktik pernikahan usia dini yang masih terjadi di berbagai daerah,” disampaikan dalam forum webinar tersebut.

PPI menilai pernikahan remaja bukan hanya persoalan sosial dan budaya, tetapi juga berkaitan erat dengan risiko kesehatan yang serius. Secara biologis, kondisi organ reproduksi remaja belum sepenuhnya siap menghadapi kehamilan dan persalinan. Situasi tersebut meningkatkan potensi komplikasi maternal, kelahiran prematur, hingga kematian ibu dan bayi.

Selain faktor biologis, rendahnya literasi kesehatan reproduksi juga menjadi tantangan yang masih dihadapi masyarakat. Banyak keluarga belum memahami tanda bahaya kehamilan maupun pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin selama masa kehamilan.

Webinar nasional ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan ibu dan anak. Di antaranya dr. Pancho Kaslam, DRM, MSc., Konsultan Kesehatan Reproduksi Maternal Neonatal Pita Putih Indonesia; dr. Lovely Daisy, MKM, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI; Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten; serta Bd. Eros Rosita, SKM., S.ST., bidan yang berpengalaman memberikan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Baduy.

Dalam paparannya, para narasumber menekankan pentingnya kolaborasi multipihak untuk menekan angka kematian ibu sekaligus mencegah meningkatnya pernikahan usia remaja. Pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, keluarga, hingga tokoh masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada generasi muda.

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI, dr. Lovely Daisy, MKM, menegaskan bahwa upaya penurunan angka kematian ibu tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan penguatan layanan kesehatan primer, edukasi berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi.

Sementara itu, pengalaman pelayanan kesehatan di masyarakat adat juga menjadi perhatian dalam webinar tersebut. Bd. Eros Rosita membagikan pengalamannya saat memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat Baduy dengan pendekatan budaya dan komunikasi yang persuasif.

PPI juga menyoroti pentingnya peran bidan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Bidan dinilai memiliki posisi strategis dalam mendeteksi risiko kehamilan sejak dini, mendampingi keluarga, sekaligus memberikan edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja.

Sejak berdiri pada 1999, Pita Putih Indonesia konsisten mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia melalui berbagai program advokasi, penyuluhan, dan penguatan kapasitas masyarakat. Organisasi ini juga mendorong penerapan self-care atau perawatan kesehatan mandiri di tingkat keluarga sebagai bagian dari upaya pencegahan komplikasi kehamilan.

Selain itu, PPI terus melibatkan generasi muda dalam penyebaran informasi kesehatan reproduksi agar edukasi dapat menjangkau lebih luas dan lebih dekat dengan kehidupan remaja.

Bagi PPI, perjuangan emansipasi perempuan di era modern tidak lagi sekadar berbicara mengenai akses pendidikan dan kesetaraan sosial. Lebih dari itu, perempuan juga berhak memperoleh layanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan bebas dari risiko kehilangan nyawa saat melahirkan.

Menutup kegiatan webinar, PPI mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan semangat Kartini sebagai gerakan nyata dalam melindungi perempuan Indonesia.

“Memutus rantai pernikahan remaja berarti memutus rantai komplikasi maternal. Ini bukan hanya tentang kesehatan, tetapi tentang masa depan perempuan Indonesia,” tegas PPI.

Tentang Pita Putih Indonesia
Pita Putih Indonesia merupakan organisasi masyarakat yang berfokus pada upaya percepatan penurunan angka kematian ibu serta keselamatan ibu hamil, melahirkan, nifas, dan bayi baru lahir melalui advokasi, edukasi, kemitraan, dan pemberdayaan masyarakat. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x