WINDUAJI – Desa Winduaji di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, menyimpan dua kekuatan yang selama ini berjalan berdekatan, tetapi belum sepenuhnya saling menghidupi. Kekuatan pertama adalah jamur tiram yang dibudidayakan Kelompok Tiram Agro Makmur. Kekuatan kedua adalah bentang wisata Tuk Sirah Kali Pemali, Waduk Penjalin, camping ground, dan eduwisata Jejamuran yang dikelola bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Ketika keduanya dipertemukan, jamur tidak lagi sekadar komoditas segar dan wisata tidak hanya berhenti pada kunjungan singkat. Keduanya dapat membentuk pengalaman, produk, pasar, dan sumber pendapatan baru bagi desa.
Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan 2026, tim pelaksana yang terdiri dari Prof. Nuniek Ina Ratnaningtya, Prof. Hidayah Dwiyanti, Lasmedi Afuan, Isnaeni Rokhayati, dengan dukungan Prof. Sri Lestari, berusaha menangkap peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Hal ini penting bagi desa berpenduduk sekitar 20.990 jiwa atau 6.829 keluarga. Dokumen program mencatat 2.598 keluarga miskin, termasuk 60 keluarga miskin ekstrem yang memiliki balita stunting.
Sebagian besar masyarakat bekerja pada sektor informal, pertanian skala kecil, dan sebagai buruh tani dengan pendapatan yang mudah berfluktuasi. Karena itu, pengembangan ekonomi lokal tidak cukup hanya menambah volume produksi. Desa membutuhkan usaha yang lebih stabil, produk yang bernilai tambah, kapasitas pengelola yang kuat, dan pasar yang mampu menyerap hasil masyarakat secara berkelanjutan.
Jamur Tumbuh, Masalah Juga Tumbuh Kelompok Tiram Agro Makmur beranggotakan 22 orang. Sebelum pendampingan, produksi jamur segar setiap anggota berkisar 2–7 kilogram per hari. Kumbung sederhana membuat suhu dan kelembapan mudah berubah, sedangkan bibit masih didatangkan dari luar desa dengan biaya sekitar 30 persen dari keseluruhan biaya produksi. Risiko kontaminasi, gangguan hama, dan kegagalan baglog menjadi persoalan yang langsung memengaruhi pendapatan. Di sisi lain, penjualan lebih banyak bertumpu pada jamur segar yang cepat rusak dan memiliki umur simpan pendek.
Penguatan pada tahun pertama memperlihatkan bahwa perubahan dapat dicapai ketika teknologi dipadukan dengan keterampilan. Pembangunan kumbung, perbaikan sanitasi, pelatihan baglog, dan penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT) ikut mendorong produksi kelompok dari sekitar 80 kilogram menjadi 144 kilogram jamur segar per hari.
Namun, teknologi yang baru terpasang belum otomatis menjadi kebiasaan kerja. Pengoperasian IoT, penerapan standar budidaya, pengendalian hama, teknik sterilisasi, dan pencatatan produksi belum dikuasai secara merata. Di sinilah program tahun kedua mengambil peran: memastikan inovasi benar-benar dipakai, dipahami, dan dirawat oleh mitra.
IoT Bukan Sekadar Alat Penyiram Pada program tahun kedua, anggota kelompok berlatih membaca data suhu dan kelembaban, mengatur parameter, memeriksa panel, sensor, jaringan, aktuator, serta nozzle, dan menjalankan sistem dalam mode manual maupun otomatis. Log operasi digunakan untuk mengetahui kapan lingkungan kumbung keluar dari kondisi yang diperlukan. Dengan cara ini, penyiraman tidak lagi hanya mengandalkan perkiraan, melainkan merespons data yang muncul dari kondisi nyata di kumbung.
Optimalisasi IoT dipadukan dengan sanitasi dan pengendalian hama. Anggota mengidentifikasi sumber kontaminasi dan organisme pengganggu, membersihkan ruang dan peralatan, memperbaiki sirkulasi, memisahkan baglog terkontaminasi, mencatat kejadian, dan menentukan tindakan koreksi. Jadwal sanitasi harian, mingguan, dan periodik disusun bersama pembagian tanggung jawab. Pendekatan ini menempatkan teknologi sebagai bagian dari sistem mutu, bukan peralatan yang berdiri sendiri.
Dari Jamur Segar Menuju Pangan Fungsional Peningkatan produksi hanya bermakna apabila pasar ikut tumbuh. Kelompok mempelajari pengembangan jamur tiram cokelat, produksi bibit F0–F2, teknik aseptik, serta penggunaan peralatan isolasi, sterilisasi, inokulasi, dan inkubasi. Kemandirian bibit penting untuk mengurangi ketergantungan kepada pemasok luar.
Pada tahap hilir, jamur putih dan cokelat dikembangkan menjadi abon dan bakso. Resep dan proses dicatat agar rasa, tekstur, ukuran, dan mutu dapat diulang pada setiap batch. Produk tersebut melengkapi olahan tahun pertama berupa keripik, sate, dan bakso jamur. Arah pengembangannya jelas: jamur Winduaji hadir sebagai pangan fungsional dan oleh-oleh khas bernilai jual tinggi.
Perubahan di ruang produksi diperkuat melalui pembukuan dan pemasaran. Kelompok dilatih memisahkan uang usaha dan pribadi, menghitung harga pokok produksi (HPP), serta menetapkan skenario penjualan langsung, reseller, dan paket wisata.
Wisata yang Menjual Pengalaman Di sisi pariwisata, Tuk Sirah, Waduk Penjalin, camping ground, dan eduwisata Jejamuran sebelumnya lebih banyak dipromosikan secara terpisah. Pokdarwis kemudian berlatih hospitality, guiding, penanganan keluhan, serta simulasi alur pengunjung. Pengelola juga menyempurnakan sistem ticketing, memperbarui website (www.tuksirah.com), serta menyusun booklet destinasi.
Paket eduwisata Jejamuran menjadi titik temu kedua mitra. Pengunjung dapat memasuki kumbung, praktik budidaya, mencicipi olahan jamur, lalu melanjutkan kunjungan ke destinasi lain. Kelompok Tiram Agro Makmur memperoleh saluran pasar yang lebih stabil, sementara Pokdarwis memiliki atraksi edukatif yang memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Mengukur Perubahan, Menjaga Keberlanjutan Keberlanjutan menjadi penentu keberhasilan pemberdayaan. Setiap teknologi kini dilengkapi SOP, jadwal perawatan, dan sumber biaya pemeliharaan. Pada kelompok jamur, tanggung jawab dibagi dari hulu ke hilir. Pada Pokdarwis, keberlanjutan dijaga melalui jadwal piket tim pemandu, operator ticketing, tim website, dan tata kelola aset. Pemerintah Desa Winduaji juga turut mendukung fasilitas, koordinasi, promosi, dan penganggaran.
Pelajaran penting dari Winduaji adalah teknologi paling bermanfaat ketika ditempatkan dalam rantai nilai yang utuh. Menghubungkan kumbung, dapur produksi, warung, pemandu, website, dan destinasi membuat setiap kegiatan memiliki fungsi ekonomi yang jelas. Desa Winduaji sedang membangun fondasi agar pangan fungsional dan wisata lokal tumbuh sebagai ekosistem ekonomi desa yang produktif, inklusif, dan mandiri.
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) sebagai pemberi pendanaan Program Pemberdayaan Desa Binaan Tahun Anggaran 2026. Apresiasi dan terima kasih juga disampaikan kepada LPPM Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), LPPM Universitas Wijayakusuma Purwokerto (UNWIKU), Pemerintah Desa Winduaji, Kelompok Tiram Agro Makmur, Pokdarwis Desa Winduaji, mahasiswa, dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan program.
No Comments