x

banner 300250

Waspada Scam Digital: Literasi Rendah Jadi Celah Kejahatan Siber

3 minutes reading
Saturday, 6 Dec 2025 08:56 91 Amin

PURWOKERTO – Kasus penipuan digital terus meningkat bukan semata karena kecanggihan pelaku, melainkan masih rendahnya literasi digital di masyarakat. Kurangnya kewaspadaan membuat pengguna internet menjadi target empuk kejahatan siber.

Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom

“Menerima tautan atau informasi mencurigakan, berhentilah lima detik untuk mengecek sumber dan permintaan datanya. Langkah sederhana itu dapat menghindarkan dari kerugian jutaan rupiah,” tegas Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom., dosen Teknik Informatika FT Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dalam Insight Talks bertajuk Deteksi Cepat Scam: Cegah Penipuan di Media Sosial, E-commerce, dan Perbankan, Jumat (5/12/2025), di Lab Terpadu Lantai 6 FEB Unsoed, Purwokerto.

Insight Talks yang dibuka Rektor Unsoed Prof. Dr. Akhmad Sodiq tersebut menjadi ruang kolaboratif antara pemerintah, akademisi, media, dan publik dalam memperkuat ekosistem keamanan digital nasional.

Kegiatan yang digagas Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Unsoed, dan Okezone ini menyoroti fakta memprihatinkan terkait kejahatan siber. Tahun 2025, sebanyak 22,12 persen pengguna internet Indonesia pernah mengalami penipuan online, menjadikan scam sebagai ancaman digital paling berbahaya.

Sejak akhir 2024 hingga Agustus 2025, tercatat lebih dari 225.000 pengaduan scam dengan 700–800 laporan per hari, serta kerugian yang menembus Rp 4,6 triliun.

Selain Dr. Nurul Hidayat yang akrab disapa Doktor Enha hadir pula para narasumber muda dari akademisi dan praktisi, yaitu Farida Dewi Maharani, Anika Faisal, Yusuf Shalahuddin, Bernadheta Ginting, dan David Gilbert Hasudungan. Mereka mengupas berbagai modus scam, mulai dari pencurian data pribadi, praktik penipuan di e-commerce, hingga phishing pada layanan perbankan digital.

Empat Pilar Literasi Digital

Dalam pemaparannya, Doktor Enha yang juga menjabat sebagai Wadek 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FT Unsoed menekankan empat pilar literasi digital sebagai tameng utama menghadapi serangan siber:

  1. Awareness — Sadar Bahaya Digital
    Tidak mudah percaya pada pesan hadiah, link tidak dikenal, atau permintaan data pribadi.

  2. Knowledge — Memahami Modus Penipuan
    Mengenali pola scam seperti phishing, akun palsu, promo bohong, hingga pembajakan akun.

  3. Hygienic Behavior — Menjaga Kebiasaan Aman
    Selalu gunakan password kuat, aktifkan pembaruan keamanan, dan hindari klik sembarangan.

  4. Digital Skill — Cakap Teknologi
    Mampu memanfaatkan fitur keamanan, memverifikasi situs/aplikasi, dan mengatur privasi.

“Pelaku kini lebih piawai memainkan psikologis korban. Saat panik atau tergiur keuntungan instan, jebakan itu langsung bekerja,” ujarnya.

Anak Muda Kini Jadi Target Utama

Sekjen Perbanas Anika Faisal mengingatkan bahwa pelaku banyak membidik generasi muda yang aktif di media sosial.

“Karena dilakukan lewat ponsel pribadi, pengguna merasa aman. Padahal di situlah celah yang dimanfaatkan pelaku,” jelasnya.

Farida Dewi Maharani menambahkan, edukasi keamanan siber perlu ditanamkan sejak sekolah agar generasi digital lebih terlindungi.

Insight Talks ini diharapkan menjadi pemicu kesadaran publik bahwa keamanan digital bukan hanya urusan teknologi, melainkan budaya perlindungan diri di dunia maya. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x