x

banner 300250

Prof. Totok Agung Mengubah Pruwatan dari Desa Miskin Menjadi Desa Penuh Harapan

4 minutes reading
Thursday, 25 Dec 2025 09:42 67 Amin

PURWOKERTO — Sepuluh tahun silam, tepatnya pertengahan 2015, hamparan sawah di Desa Pruwatan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, tampak retak-retak dan kering. Desa yang kala itu menyandang status desa miskin ekstrem tersebut mengalami krisis berkepanjangan akibat bendungan irigasi utama yang jebol diterjang banjir bandang, memutus pasokan air ke lahan pertanian warga.

Prof Totok Agung mengecek areal persawahan di Desa Pruwatan

Akibatnya, para petani hanya mampu menanam padi sekali dalam setahun dengan mengandalkan curah hujan. Gagal panen kerap terjadi. Kondisi serupa dialami para peternak yang kesulitan mendapatkan pakan saat musim kemarau, sementara limbah ternak belum terkelola dengan baik hingga menimbulkan persoalan lingkungan.

Prof Totok Agung bersama petani dan peternak Desa Pruwatan.

Kini, satu dekade berselang, wajah Desa Pruwatan berubah drastis. Sawah-sawah kembali hijau, panen padi dapat dilakukan dua kali setahun, bahkan di beberapa lahan mencapai tiga kali. Perubahan signifikan ini tidak terlepas dari peran seorang akademisi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D.

Program Kosabangsa Padi Gogo

“Dulu, setelah bendungan jebol, irigasi terputus. Petani hanya bisa menanam padi setahun sekali, bahkan sering gagal panen,” ujar Prof. Totok saat ditemui, Rabu (24/12/2025).

Kolaborasi Unsoed–Universitas Peradaban

Transformasi Desa Pruwatan bermula dari implementasi program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat), sebuah program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong sinergi perguruan tinggi dengan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan riil berbasis riset dan pengabdian.

Berdiskusi bersama petani dan peternak Desa Pruwatan di areal persawahan, untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Melalui skema tersebut, Prof. Totok bersama Tim Pendamping dari Unsoed—Prof. Sri Lestari dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Dr. Arif Sudarmaji dari Teknik Pertanian—bersinergi dengan Tim Pelaksana Universitas Peradaban Bumiayu, Brebes.

Tim Universitas Peradaban dipimpin Siti Mudmainah, S.P., M.Sc., bersama Randi Adzin Murdiantoro, S.Si., M.Sc. dan Wahyu Febriyono, S.P., M.P. dari Fakultas Sains dan Teknologi. Kolaborasi lintas disiplin dan lintas kampus ini menjadi kunci dalam merancang solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa.

Varietas Padi Protani dan Energi Surya

Langkah awal yang dilakukan tim adalah memperkenalkan varietas padi Protani, hasil riset Fakultas Pertanian Unsoed yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian. Varietas ini dikenal memiliki daya hasil tinggi, kandungan protein tinggi, serta toleran terhadap kondisi kekeringan.

Prof Totok Agung bersama tim dosen dan mahasiswa di areal persawahan Desa Pruwatan.

Upaya tersebut diperkuat dengan pembangunan pompa air berbasis tenaga surya yang mengalirkan air dari Kali Cipali menuju sawah warga. Sejumlah warga bahkan mewakafkan pekarangan rumahnya untuk pemasangan panel surya dan mengizinkan lahannya dilintasi pipa air.

“Air dapat dialirkan ke sawah selama ada sinar matahari, dengan biaya yang hemat dan sistem yang berkelanjutan,” jelas Prof. Totok, yang juga merupakan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas.

Program ini dilengkapi dengan mesin pengolahan pupuk organik berbahan dasar kotoran ternak. Kini, pupuk tersebut telah diproduksi, dikemas, dan dimanfaatkan oleh petani setempat. Di sisi lain, rumput pakan ternak juga ditanam di lahan desa guna menjamin ketersediaan pakan, terutama saat musim kemarau.

Seluruh rangkaian kegiatan melibatkan berbagai unsur, mulai dari kepala desa dan perangkatnya, kelompok tani dan peternak, TNI dari Koramil dan Kodim, penyuluh pertanian, hingga mahasiswa Unsoed dan Universitas Peradaban.

Dampak Nyata bagi Masyarakat

Hasil dari program Kosabangsa ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Pompa air tenaga surya berfungsi optimal, varietas Protani tumbuh baik, dan intensitas tanam meningkat signifikan.

Prof Totok Agung dengan penghargaan yang diterimanya.

“Masyarakat tani Desa Pruwatan kini berbahagia. Mereka dapat panen padi dua kali setahun atau lebih, dengan hasil yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya,” kata Prof. Totok.

Bagi Prof. Totok, keberhasilan ini bukan semata capaian program, melainkan wujud tanggung jawab keilmuan. “Ini adalah ikhtiar agar ilmu pengetahuan benar-benar bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat,” tuturnya.

Ia menegaskan, kegiatan di Desa Pruwatan mencakup aspek kebencanaan, ketahanan pangan, energi terbarukan, hingga pengentasan kemiskinan sebagai bentuk pembumian hasil riset di tengah masyarakat.

Pengakuan Nasional

Dedikasi tersebut berbuah pengakuan nasional. Program Kosabangsa yang digawangi Prof. Totok Agung dinobatkan sebagai Program Terbaik dalam ajang Anugerah Diktisaintek 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diterima pada Jumat (19/12/2025) di Gedung Graha Saintek, Jakarta.

Selain Prof. Totok, Siti Mudmainah juga menerima penghargaan Anugerah Diktisaintek sebagai pelaksana program.

Dari Desa Pruwatan, tersaji sebuah pelajaran berharga: ketika ilmu pengetahuan turun ke sawah, mendengar keluhan petani, dan bekerja bersama masyarakat, perubahan nyata dapat terwujud. Dari sawah tadah hujan menuju desa yang penuh harapan, Pruwatan kini menatap masa depan dengan optimisme. (*na)

#Bantar Kawung #Brebes #Desa Pruwatan #Kosabangsa #Prof Totok Agung DH #Universitas Peradaban #Unsoed


No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x