PURBALINGGA – Tim Hieren dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan menembus Top 10 ajang Shell LiveWIRE 2025. Kompetisi kewirausahaan bergengsi ini diselenggarakan oleh Shell Indonesia bekerja sama dengan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), melalui proses seleksi ketat selama enam bulan terakhir.
Tim Hieren diperkuat tiga mahasiswa lintas disiplin, yakni Yunan Faila Sofi (Informatika 2024, Fakultas Teknik), Muhammad Arief Faqih (Ekonomi Pembangunan 2024, Fakultas Ekonomi dan Bisnis), serta Rafi Asha Sejati (Kesehatan Masyarakat 2022, Fakultas Ilmu Kesehatan). Kolaborasi multidisipliner ini menjadi kekuatan utama dalam merancang solusi inovatif yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
Tim ini dibimbing oleh dua dosen, yaitu Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom. sebagai pembimbing bidang teknologi, serta Nur Wijayanti, S.TP., M.P. sebagai pembimbing bidang sosial dan bisnis.
Wakil Dekan III Fakultas Teknik Unsoed, Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom., menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan bukti kapasitas inovasi mahasiswa Unsoed dalam menjawab persoalan riil masyarakat.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa Unsoed mampu menghadirkan solusi teknologi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah 3T,” ujar Dr. Nurul Hidayat, yang akrab disapa Doktor Enha, saat ditemui di Fakultas Teknik Unsoed, Blater, Kalimanah, Purbalingga, Rabu (18/2/2026).
Wilayah 3T sendiri merujuk pada daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Daerah tertinggal memiliki tingkat pembangunan dan infrastruktur yang relatif rendah, daerah terdepan berada di wilayah perbatasan negara, sedangkan daerah terluar merupakan wilayah di pulau-pulau paling luar yang jauh dari pusat pemerintahan.
Inovasi yang diusung Tim Hieren berupa sistem energi terbarukan berbasis hybrid yang mengintegrasikan panel surya dan turbin angin. Teknologi ini dirancang untuk menyediakan listrik yang aman, terjangkau, dan mudah diakses, khususnya bagi masyarakat di wilayah 3T seperti sejumlah desa di Kabupaten Cilacap dan Kebumen.
Menurut Doktor Enha, sistem tersebut tidak sekadar menggabungkan dua sumber energi terbarukan, tetapi juga dilengkapi fitur keamanan berbasis Internet of Things (IoT).
“Sistem ini kami lengkapi dengan fitur Point-to-Point Detection berbasis IoT sebagai notifikasi dini untuk mendeteksi dan mencegah risiko kebakaran. Selain itu, perangkat telah terintegrasi dengan aplikasi digital sehingga dapat dipantau dan dikendalikan secara real-time dari mana saja,” jelasnya.
Lebih dari sekadar solusi teknis, inovasi ini diarahkan untuk mendorong kemandirian energi desa sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Ketersediaan energi yang stabil diharapkan mampu mendukung aktivitas produktif masyarakat, mulai dari usaha mikro hingga layanan publik.
“Dengan akses energi yang stabil dan terjangkau, aktivitas ekonomi desa dapat tumbuh. Inilah nilai tambah dari inovasi yang dikembangkan Tim Hieren,” kata Dr. Nurul.
Perjalanan menuju Top 10 Shell LiveWIRE 2025 tidak diraih secara instan. Selama enam bulan, tim menjalani serangkaian tahapan, mulai dari riset dan pengembangan produk, validasi model bisnis, penyempurnaan prototipe, hingga mengikuti tiga tahap bootcamp sebelum akhirnya melaju ke babak final pitching.
Ke depan, Tim Hieren berharap inovasi renewable energy hybrid tersebut dapat diimplementasikan secara lebih luas guna mendukung terwujudnya desa mandiri energi yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan di Indonesia. (*na)
No Comments