Pringsewu — Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) menerima kunjungan audiensi Ketua TP-PKK Kabupaten Pringsewu, Rahayu Riyanto Pamungkas, dalam rangka membahas penguatan program pengelolaan Bank Sampah serta kolaborasi edukasi lingkungan berbasis masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat Gedung B Universitas Aisyah Pringsewu itu dihadiri jajaran pimpinan universitas, pengurus yayasan, kepala biro, dosen, dan sivitas akademika. Audiensi tersebut menjadi forum diskusi strategis untuk mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Pringsewu.
Hadir dalam kegiatan itu Ketua Yayasan Aisyah Lampung Dr. Fitriana, S.Si.T., M.Kes., Bendahara Yayasan Aisyah Lampung Dr. Sukarni, S.ST., M.Kes., Wakil Rektor I Dr. Ani Kristianingsih, S.ST., M.Kes., Wakil Rektor II Yenny Marthalena, S.E., M.M., Wakil Rektor III Dr. Linda Puspita, S.ST., M.Kes., Nur Aminudin, S.Kom., M.T.I., Agustinus Eko Setiawan, S.Kom., M.Kom., Bungsudi, S.Pd., M.Pd., Septika Yani Veronica, S.ST., Bdn.,M.Tr.Keb.
Dalam sambutannya, Rahayu Riyanto Pamungkas mengapresiasi keterbukaan Universitas Aisyah Pringsewu dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Universitas Aisyah Pringsewu yang telah membuka ruang silaturahmi dan diskusi bersama terkait pengelolaan sampah di Kabupaten Pringsewu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Pringsewu saat ini tengah mendorong pembentukan Bank Sampah di berbagai wilayah sebagai langkah mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang volumenya terus meningkat.
Menurutnya, persoalan sampah kini menjadi isu serius di berbagai daerah karena banyak TPA mulai mengalami overload. Kondisi tersebut membutuhkan perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah tangga.
Rahayu menuturkan, program Bank Sampah tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga mendorong masyarakat membiasakan diri memilah sampah, mengolah sampah organik, serta memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai guna.
“Kami ingin membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah. Bukan hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mulai memilah dan mengelolanya sejak dari rumah,” katanya.
Ia menambahkan, gerakan tersebut dikembangkan melalui pendekatan swadaya masyarakat dengan konsep low budget high impact, yakni program berbiaya minimal namun mampu memberikan dampak luas bagi lingkungan dan masyarakat.
Selain berdampak pada lingkungan, program Bank Sampah juga diharapkan mampu mendukung penguatan ekonomi sirkular masyarakat melalui pemberdayaan ibu rumah tangga dan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Dalam audiensi itu, Rahayu turut membuka peluang kerja sama dengan Universitas Aisyah Pringsewu, terutama dalam pengembangan teknologi, edukasi, dan sistem pendukung pengelolaan Bank Sampah.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan inovasi, mulai dari pengembangan aplikasi, sistem pendataan, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah.
“Kampus memiliki potensi besar menjadi pionir program berbasis lingkungan. Kami berharap Universitas Aisyah Pringsewu dapat menjadi contoh kampus yang aktif berkontribusi dalam pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Aisyah Pringsewu, Dr. Sutrisno, S.Kep., Ners., MAN., menegaskan komitmen kampus dalam mendukung gerakan pengelolaan sampah dan penerapan budaya ramah lingkungan melalui kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Pringsewu.
Dalam sambutannya, Dr. Sutrisno menyampaikan bahwa persoalan sampah dan perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan merupakan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, termasuk perguruan tinggi.
Menurutnya, Universitas Aisyah Pringsewu siap mendukung program pemerintah daerah melalui berbagai langkah konkret, seperti edukasi mahasiswa, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, hingga pembentukan budaya kampus yang ramah lingkungan.
“Kami memiliki visi untuk mendukung pengembangan kampus peduli lingkungan. Karena itu, gerakan pengurangan sampah plastik dan pembiasaan hidup ramah lingkungan perlu terus diperkuat bersama,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan sejumlah daerah dan negara yang telah menerapkan pembatasan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan tas belanja pribadi dan pengurangan kantong plastik di pusat perbelanjaan.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan wadah makanan pribadi, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dapat menjadi langkah awal membangun budaya sadar lingkungan.
Dr. Sutrisno menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pelopor perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi dan keteladanan di lingkungan kampus.
“Kampus bisa menjadi pionir gerakan perubahan. Ketika mahasiswa mulai terbiasa membawa wadah sendiri dan mengurangi penggunaan plastik, kebiasaan itu akan menyebar menjadi budaya positif di tengah masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif melalui komunitas dan gerakan sosial yang melibatkan mahasiswa, dosen, serta masyarakat secara luas.
Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dibangun secara bertahap melalui edukasi dan pembiasaan yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sutrisno menyatakan kesiapan Universitas Aisyah Pringsewu untuk menjadi bagian dari pilot project pengembangan kampus ramah lingkungan dan pengelolaan sampah berbasis edukasi.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, diharapkan gerakan pengelolaan sampah serta budaya hidup ramah lingkungan dapat berkembang lebih luas dan memberikan dampak positif bagi keberlanjutan lingkungan di Kabupaten Pringsewu. (*na)
No Comments