Jakarta, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia akan menyelenggarakan Konferensi Nasional bertajuk “Towards a Safe, Equitable, and Accountable Future of AI-Health Ecosystem in Indonesia” pada 8 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Leimena, Gedung Adhyatma Lantai 2 Kementerian Kesehatan ini menjadi forum strategis dalam membahas pengembangan ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di bidang kesehatan yang aman, berkeadilan, dan akuntabel.
Konferensi nasional tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai institusi nasional dan internasional, termasuk Kementerian Kesehatan RI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Indonesia College of Science for Sustainable Development (ICSSD), serta sejumlah organisasi dan mitra yang bergerak di bidang riset, kesehatan, dan teknologi digital.
Kegiatan akan dibuka dengan keynote speech dari Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, yang akan menyampaikan arah kebijakan pengembangan transformasi kesehatan digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam mendukung sistem pelayanan kesehatan nasional. Sementara itu, sambutan pembukaan akan disampaikan oleh dr. Azhar Jaya, S.H., SKM., MARS., selaku Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Selain konferensi nasional, rangkaian kegiatan juga akan dilanjutkan dengan workshop bertema “Implementing Ethics Review Guidelines, Informed Consent, and Data Governance in AI-Health” yang diselenggarakan pada 8–9 Juni 2026. Workshop ini difokuskan pada pembahasan implementasi pedoman etik, persetujuan tindakan (informed consent), serta tata kelola data dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI di sektor kesehatan.
Konferensi menghadirkan para pakar dan praktisi dari berbagai negara yang akan membahas beragam isu strategis terkait AI dalam bidang kesehatan. Sesi pertama mengangkat tema Ethical AI Aspect in Healthcare Regulatory Benchmarking yang membahas aspek etika dan regulasi kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan. Para pembicara berasal dari institusi terkemuka dunia, termasuk Belgia, Tiongkok, Portugal, Indonesia, dan perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sesi kedua bertajuk Introduction to Big Data & AI in Healthcare akan mengulas penerapan big data dan kecerdasan buatan dalam mendukung transformasi layanan kesehatan. Diskusi akan mencakup pemanfaatan sistem pencitraan medis berbasis AI, teknologi analisis data kesehatan, hingga inovasi digital yang mendukung pengambilan keputusan klinis.
Sementara itu, sesi ketiga akan membahas Law Aspect (Implication) in Medical Data yang berfokus pada implikasi hukum penggunaan data medis, perlindungan data pribadi, keamanan siber, serta regulasi perangkat kesehatan digital. Adapun sesi keempat mengangkat tema Management and Sovereignty of Medical Data yang menyoroti pentingnya tata kelola, keamanan, dan kedaulatan data kesehatan nasional di era transformasi digital.
Kegiatan ini terbuka bagi tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, mahasiswa, pengelola fasilitas kesehatan, pembuat kebijakan, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan teknologi kesehatan. Peserta yang mengikuti kegiatan akan memperoleh sertifikat dan pengakuan sebesar 15,5 Jam Pelajaran (JPL).
Melalui konferensi dan workshop ini, Kementerian Kesehatan berharap dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menyusun kebijakan, standar etik, serta tata kelola teknologi AI yang bertanggung jawab. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pemanfaatan kecerdasan buatan di bidang kesehatan mampu memberikan manfaat optimal bagi masyarakat sekaligus tetap menjunjung tinggi prinsip keselamatan, keadilan, privasi, dan akuntabilitas.
Konferensi Nasional AI-Health 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam mempersiapkan transformasi sistem kesehatan berbasis teknologi digital yang inovatif, berkelanjutan, dan selaras dengan perkembangan global menuju masa depan kesehatan yang lebih cerdas dan inklusif. (*na)
No Comments