x

banner 300250

Webinar MISI Bahas “Hippocampus Organisasi” di Era AI, Dorong Pelestarian Memori dan Budaya Institusi

4 minutes reading
Friday, 5 Jun 2026 20:12 26 Amin

EDUTECHID.COM – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masif tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam menjaga pengetahuan, memori, dan budaya organisasi. Menjawab tantangan tersebut, Masyarakat Informatika Sosial Indonesia (MISI) menggelar Webinar MISI #065 bertajuk “Hippocampus Organisasi: Menemukan Kembali Ingatan, Artefak, dan Budaya di Era Kecerdasan Buatan”, Jumat (5/6/2026) malam.

Kegiatan yang diselenggarakan secara daring dan terbuka untuk umum tersebut menghadirkan Adnuri Mohamidi, AI Enthusiast di Whitesec, sebagai pemantik, serta Nurul Hidayat, dosen Jurusan Informatika Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman, sebagai pembahas. Webinar dipandu oleh Bambang Nurcahyo Prastowo, Co-Founder MISI, dan dipandu secara keseluruhan oleh Prof. Agus Fanar Syukri, Profesor Kebijakan Publik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder MISI.

Dalam paparannya, webinar menyoroti konsep hippocampus organisasi, yakni kemampuan suatu organisasi untuk menyimpan, mengelola, dan memanfaatkan kembali ingatan kolektif yang terbentuk melalui dokumen, pengalaman, praktik kerja, artefak digital, hingga budaya yang berkembang di dalamnya. Konsep tersebut dinilai semakin relevan di tengah pesatnya adopsi AI yang memungkinkan organisasi mengelola pengetahuan dalam skala yang jauh lebih besar dan kompleks.

Founder MISI, Prof. Agus Fanar Syukri, menilai bahwa transformasi digital tidak cukup hanya berfokus pada penggunaan teknologi. Menurutnya, organisasi juga perlu memastikan bahwa pengetahuan yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak hilang akibat pergantian generasi, perubahan sistem kerja, maupun perkembangan teknologi yang begitu cepat.

“Organisasi yang mampu bertahan dan berkembang adalah organisasi yang memiliki kemampuan untuk menyimpan, mengelola, dan mewariskan pengetahuannya secara berkelanjutan. AI dapat menjadi alat yang sangat kuat, tetapi nilai utama tetap terletak pada bagaimana manusia membangun dan menjaga memori kolektif organisasi,” ujarnya.

Sementara itu, Adnuri Mohamidi menjelaskan bahwa perkembangan AI generatif membuka peluang baru dalam pengelolaan pengetahuan organisasi. Teknologi tersebut dapat membantu proses dokumentasi, pencarian informasi, analisis arsip, hingga pengembangan sistem pembelajaran organisasi yang lebih adaptif.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan AI harus tetap memperhatikan aspek kualitas data, konteks pengetahuan, serta nilai-nilai budaya yang menjadi identitas organisasi.

“AI dapat membantu mengakses dan mengolah informasi dengan cepat, tetapi pemahaman terhadap konteks, sejarah, dan budaya organisasi tetap memerlukan keterlibatan manusia. Di sinilah pentingnya membangun sistem yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan pengetahuan institusional,” katanya.

Sebagai pembahas, Nurul Hidayat menekankan bahwa organisasi modern perlu mengembangkan strategi pengelolaan pengetahuan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga memperkuat aspek kolaborasi dan pembelajaran bersama. Menurutnya, keberhasilan transformasi digital sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi dalam mengubah informasi menjadi pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan dan inovasi.

Ia menambahkan bahwa memori organisasi tidak hanya tersimpan dalam dokumen atau basis data, melainkan juga dalam praktik kerja, pengalaman pegawai, jejaring kolaborasi, dan budaya yang berkembang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, pelestarian artefak pengetahuan menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang adaptif dan berkelanjutan.

Webinar ini juga menjadi ruang diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi institusi publik, perguruan tinggi, komunitas, maupun sektor industri dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat. Para peserta diajak untuk memahami bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara strategis untuk mendukung tata kelola informasi, dokumentasi organisasi, dan pengembangan budaya berbagi pengetahuan.

Sebagai komunitas yang berfokus pada pengembangan informatika sosial, MISI selama ini aktif mendorong literasi digital, tata kelola informasi, serta pemanfaatan teknologi untuk kepentingan masyarakat. Melalui berbagai webinar dan forum diskusi rutin, MISI menghadirkan ruang kolaborasi bagi akademisi, peneliti, praktisi, birokrat, dan masyarakat umum untuk membahas isu-isu strategis terkait transformasi digital di Indonesia.

Penyelenggaraan Webinar MISI #065 turut didukung oleh sejumlah mitra, antara lain Center for Cryptography and Cybersecurity Researches (C3RG) UGM, Praxis High School, Laboratorium Sistem Komputer dan Jaringan (Lab SKJ) UGM, EduTech, serta KAMIPAGAMA.

Melalui kegiatan ini, MISI berharap semakin banyak organisasi yang menyadari pentingnya membangun sistem pengelolaan pengetahuan yang kuat, sehingga mampu memanfaatkan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab sekaligus menjaga warisan pengetahuan dan budaya yang menjadi fondasi keberlanjutan organisasi.

Masyarakat yang ingin mengikuti webinar dapat mengakses informasi dan pendaftaran melalui tautan https://s.id/WebinarMISI3. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x