x

banner 300250

Unsoed Kembangkan Budidaya Jamur Tiram Putih di Desa Mulyasari, Dorong Ketahanan Pangan dan Kemandirian Desa

3 minutes reading
Tuesday, 7 Oct 2025 08:14 80 Amin

Cilacap, 6 Oktober 2025 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengembangkan program budidaya jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) di Desa Mulyasari, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Program ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan usaha lokal.

Kegiatan yang digagas sejak pertengahan Juli 2025 ini diketuai oleh Prof. Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M.S., bersama anggota tim Prof. Dr. Nuraeni Ekowati, M.S., dan Prof. Dr. Sri Lestari, S.E., M.Si. Program bertajuk “Peningkatan Keberdayaan Mitra Usaha Jamur MasTo Mushroom Sebagai Upaya Mendukung Program Ketahanan Pangan Desa Mulyasari” tersebut didanai melalui Skim PkM Berbasis Riset Dana BLU Unsoed, dan direncanakan berjalan selama tiga tahun.

Tim PkM Unsoed memberikan pelatihan budidaya jamur tiram putih di Desa Mulyasari, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap

Menurut Prof. Nuniek, pada tahun pertama, kegiatan difokuskan pada FGD bersama mitra MasTo Mushroom, penyuluhan teknologi budidaya jamur tiram putih, pengelolaan kumbung, serta pelatihan pembuatan media tanam (bag log). Selain itu, tim juga memberikan bantuan peralatan dan dukungan rehabilitasi kumbung agar standar budidaya lebih efisien dan produktif.

“Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis sekaligus manajerial mitra, agar mereka dapat mandiri dan berdaya saing dalam mengelola usaha jamur tiram,” ujar Prof. Nuniek di Purwokerto, Senin (6/10/2025).

Potensi Besar Desa Mulyasari

Prof. Nuraeni Ekowati menilai, Desa Mulyasari memiliki potensi besar untuk pengembangan jamur tiram putih. Ketersediaan limbah serbuk kayu dari industri gergajian menjadi bahan baku yang melimpah dan murah untuk media tanam.

“Permintaan jamur tiram terus meningkat, sementara produksinya masih terbatas. Jamur tiram kaya protein nabati, serat, dan antioksidan, serta memiliki siklus panen yang relatif singkat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa secara berkelanjutan.

Sementara itu, Prof. Sri Lestari, pakar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed, menegaskan bahwa pengembangan usaha jamur tiram putih sejalan dengan program Ketahanan Pangan Nasional dan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.

“Jamur tiram merupakan bahan pangan bernilai gizi tinggi dan mudah didistribusikan. Jika diintegrasikan dengan rantai pasok MBG, desa dapat menjadi produsen lokal pangan bergizi sekaligus memperoleh manfaat ekonomi langsung,” terangnya.

Memberi Dampak Nyata bagi Masyarakat

Ketua kelompok MasTo Mushroom, Nurkustanto, menyampaikan rasa terima kasih atas pendampingan dan bimbingan dari tim PkM Unsoed. Menurutnya, program ini membawa dampak besar terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan semangat anggota kelompok.

“Kami sangat berterima kasih kepada tim Unsoed yang hadir langsung mendampingi kami. Program ini membuka wawasan baru tentang potensi jamur tiram sebagai sumber penghasilan dan bagian penting dari ketahanan pangan desa,” ujarnya penuh haru.

Nurkustanto berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut, sehingga kelompok MasTo Mushroom semakin mandiri, inovatif, dan menjadi contoh inspiratif bagi kelompok usaha lain di wilayah Majenang.

Melalui program ini, Unsoed kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian masyarakat berbasis riset, yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat pedesaan dan pembangunan nasional. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x