Prosesi Pembukaan Munas APTIKOM 2026 yang ditandai dengan peluncuran anak panah oleh Ketua Umum APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer) Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, S.Si., S.Kom bersama Rektor UAJY Dr.Greg. Sri Nurhartanto,Kepala Tekkomdik Sayuri Ega Ravanda YOGYAKARTA – Musyawarah Nasional (Munas) ke-7 Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) 2026 resmi dibuka di Hotel Sahid Raya Yogyakarta, Kamis (8/10/2026) malam. Forum yang diikuti hampir 1.200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghasilkan riset dan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pembukaan Munas ditandai dengan prosesi simbolis peluncuran anak panah oleh Ketua Umum APTIKOM, Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, S.Si., S.Kom., bersama Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Dr. Greg. Sri Nurhartanto, dan Kepala Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Balai Tekkomdik) DIY, Sayuri Ega Ravanda.
Munas APTIKOM tahun ini mengusung tema “Transformasi Pendidikan Tinggi Informatika, Kampus Berdampak, Hilirisasi Riset dan Sumber Daya Manusia Berdaya Saing”. Tema tersebut dinilai relevan dengan tantangan pendidikan tinggi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Dalam sambutan tertulis Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan Sayuri Ega Ravanda, ditegaskan bahwa daya saing masa depan tidak hanya bergantung pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan manusia menentukan arah pemanfaatannya.
“Daya saing masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga oleh kecakapan memberi arah terhadap penggunaannya,” demikian bagian sambutan Sri Sultan.
Atas dasar itu, perguruan tinggi dituntut melampaui peran sebagai pusat produksi pengetahuan. Kampus juga perlu menjadi ruang lahirnya inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sri Sultan menekankan, hasil riset tidak semestinya berhenti pada publikasi ilmiah. Inovasi harus mampu menjangkau masyarakat, dunia industri, dan pelayanan publik, sekaligus berkontribusi menyelesaikan berbagai persoalan nyata.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, penguatan kualitas manusia juga dinilai semakin penting. Kemajuan teknologi perlu berjalan seiring dengan kebijaksanaan dalam penggunaannya.
“Di tengah perlombaan membuat mesin semakin cerdas, pendidikan tinggi memiliki tugas yang lebih mendasar, memastikan manusia tetap memiliki kebijaksanaan,” tandas Sri Sultan.
Sri Sultan turut mengaitkan perkembangan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai yang hidup di Yogyakarta. Filosofi Jawa ngelmu iku kelakone kanthi laku, menurutnya, mengingatkan bahwa pengetahuan memperoleh makna ketika diwujudkan melalui tindakan, manfaat, dan tanggung jawab.
Ia berharap Munas APTIKOM dapat merumuskan arah bersama bagi pendidikan tinggi informatika di Indonesia, memperkuat kolaborasi antarkampus, serta mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat. Teknologi, dalam konteks tersebut, perlu ditempatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Ketua Panitia Munas ke-7 APTIKOM 2026, Paulus Mudjihartono, mengatakan UAJY telah mempersiapkan diri selama sekitar dua tahun untuk menjadi tuan rumah. Upaya tersebut dimulai saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APTIKOM di Medan pada 2024, kemudian kembali disampaikan pada Rakernas 2025 hingga Yogyakarta ditetapkan sebagai lokasi Munas tahun ini.
Menurut Paulus, kepercayaan tersebut menjadi tanggung jawab besar bagi UAJY dan seluruh panitia. Yogyakarta dipilih bukan semata-mata karena daya tarik wisatanya, melainkan juga karena identitasnya sebagai kota budaya dan pendidikan.
“Jogja bukan sekadar kota wisata, Jogja adalah kota budaya, Jogja adalah kota pendidikan, Jogja adalah kota tempat berbagai gagasan bertemu,” ujar Paulus.
Ia menilai karakter Yogyakarta sejalan dengan semangat APTIKOM yang mempertemukan perguruan tinggi informatika dan komputer dari berbagai wilayah Indonesia. Perbedaan latar belakang institusi, daerah, pengalaman, dan tantangan diharapkan menjadi modal untuk merumuskan langkah bersama dalam memajukan pendidikan tinggi informatika.
Dari sisi partisipasi, Munas kali ini mencatat jumlah peserta yang cukup besar. Paulus mengatakan pendaftaran daring ditutup setelah jumlah pendaftar melampaui 1.000 orang.
Berdasarkan data terakhir panitia, jumlah peserta mencapai sekitar 1.165 orang. Pendaftaran langsung di lokasi juga masih berlangsung, sehingga total peserta diperkirakan mendekati 1.200 orang.
Peserta berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Tujuh provinsi dengan jumlah peserta terbanyak adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, DIY, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sumatera Utara.
“Data tersebut menunjukkan satu hal: APTIKOM benar-benar mempersatukan Indonesia,” katanya.
Paulus berharap Munas tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga membuka ruang pertemuan langsung bagi akademisi, peneliti, dan pengelola perguruan tinggi. Interaksi tatap muka dinilai tetap memiliki arti penting setelah beberapa tahun terakhir banyak kegiatan akademik berlangsung secara daring.
“Bukan hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga menghasilkan kenangan dan semangat baru untuk bersama-sama memajukan pendidikan tinggi informatika dan komputer di Indonesia,” ujar Paulus.
Panitia juga mencatat dukungan dari 32 perguruan tinggi, termasuk lima perguruan tinggi lokal Yogyakarta, serta delapan pihak industri.
Rektor UAJY, Dr. Greg. Sri Nurhartanto, menyebut penyelenggaraan Munas APTIKOM di Yogyakarta memiliki makna tersendiri. Menurutnya, kota ini memiliki kaitan dengan awal pembentukan organisasi tersebut.
“Pembentukan APTIKOM awal mula itu dari Yogyakarta. Dan ini sekarang kembali ke Yogyakarta,” ujar Nurhartanto.
Dalam sambutannya, ia juga mengutip karya penyair Yogyakarta Joko Pinurbo yang menggambarkan Jogja melalui tiga kata: rindu, pulang, dan angkringan. Ia mengajak peserta memanfaatkan kesempatan berada di Yogyakarta untuk mengikuti agenda Munas sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan kota dan masyarakatnya.
Munas dijadwalkan berlangsung pada 8–9 Oktober 2026. Nurhartanto pun mengajak peserta mempertimbangkan untuk memperpanjang kunjungan hingga akhir pekan.
Menurut dia, kehadiran hampir 1.200 peserta dari berbagai daerah berpotensi memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, mulai dari sektor kuliner hingga penjualan oleh-oleh khas Yogyakarta.
“Kehadiran Anda tentu akan memberikan hal yang positif, terutama tadi yang sudah disinggung oleh Bapak Paul selaku ketua panitia. Anda ikut memberdayakan ekonomi Yogyakarta,” katanya. (*na)
No Comments