x

banner 300250

Diuji 100 Responden di Bogor, Mie MOCAF UNSOED Dapat Respons Positif dan Siap Dikembangkan ke Pasar

4 minutes reading
Monday, 5 Oct 2026 10:44 267 enha

Upaya menghadirkan pangan alternatif berbasis komoditas lokal terus dilakukan Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) melalui pengembangan mie fungsional bebas gluten berbasis tepung singkong termodifikasi atau MOCAF (Modified Cassava Flour). Produk inovasi tersebut baru-baru ini diuji kepada 100 responden di Bojong Gede, Bogor, untuk mengetahui penerimaan konsumen sekaligus memperoleh masukan bagi penyempurnaan produk sebelum memasuki tahap pengembangan lebih lanjut.

Uji produk yang dilaksanakan pada Minggu, 4 Oktober 2026, diselenggarakan oleh Pusat Koordinasi Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP) LPPM UNSOED. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Hiliriset Dorongan Teknologi Tahun 2026 KEMENDIKTISAINTEK dengan judul “Produksi Skala Pilot dan Pra-Komersial Mie Fungsional Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi bagi Peningkatan TKT dan Akselerasi Komersialisasi Industri.”

Ketua LPPM UNSOED, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, MP., IPU., ASEAN Eng., mengatakan pengembangan mie MOCAF dilatarbelakangi oleh kebutuhan memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap gandum impor yang mencapai sekitar 10 juta ton per tahun.

“Diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan. Singkong memiliki potensi besar karena merupakan sumber karbohidrat yang dapat dikembangkan menjadi tepung MOCAF dan digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan sebagai alternatif pengganti sebagian maupun seluruh penggunaan terigu,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Santi Dwi Astuti, STP., M.Si., inventor formula dan teknologi produksi mie fungsional bebas gluten berbasis MOCAF sekaligus Koordinator Puskor IHSP UNSOED, menjelaskan bahwa pengembangan produk juga merespons meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang memiliki karakteristik fungsional.

“Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular, termasuk diabetes dan obesitas, mendorong kebutuhan terhadap pangan dengan karakteristik seperti rendah indeks glikemik, tinggi serat, dan bebas gluten. Kondisi ini membuka peluang pengembangan pangan fungsional berbasis komoditas lokal, termasuk singkong,” jelasnya.

Menurutnya, hasil pra-studi kelayakan yang dilakukan pada 2025 menunjukkan bahwa inovasi mie fungsional bebas gluten berbasis MOCAF layak dikembangkan dari aspek teknis, pasar, dan finansial. Kajian tersebut menunjukkan nilai NPV positif, IRR lebih dari 20 persen, serta payback period sekitar tiga tahun.

Dari sisi perlindungan dan jaminan produk, inovasi mie MOCAF yang dikembangkan juga telah memiliki paten granted dengan nomor IDP000103454 serta sertifikat halal.

Keunggulan lain terletak pada teknologi produksinya. Mie MOCAF dikembangkan menggunakan teknologi tepat guna berbasis proses non-ekstrusi sehingga berpeluang diterapkan oleh industri mikro dan kecil. Produk yang dikembangkan juga memiliki karakteristik kadar protein dan serat pangan yang tinggi.

Ketua Program Hiliriset Dorongan Teknologi Mie MOCAF, Dr. Furqon, STP., M.Si., dosen Teknik Pertanian Fakultas Pertanian UNSOED, mengatakan program tersebut dilaksanakan melalui sinergi dan kemitraan dengan UD Usaha Mandiri Banjarnegara.

“Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesiapan teknologi dan komersialisasi mie MOCAF melalui produksi skala pilot dan pra-komersial yang tervalidasi dan tersertifikasi, sekaligus menyiapkan model bisnis serta sistem distribusi yang dapat diimplementasikan,” ujarnya.

Dalam dua tahun pelaksanaan program, tim menargetkan peningkatan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari level 6 menjadi level 8 melalui validasi proses, stabilisasi mutu, penyempurnaan aspek regulasi, serta pembentukan kanal distribusi yang aktif.

Respons Positif, tetapi Ada Catatan untuk Penyempurnaan

Uji produk di Bogor menjadi bagian penting dari proses validasi pasar. Selain memperkenalkan mie MOCAF kepada masyarakat, kegiatan ini dimanfaatkan untuk memperoleh pengalaman langsung konsumen setelah mencoba produk serta mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki.

Hasil uji menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan respons positif terhadap mie MOCAF. Responden menyatakan menyukai dan menerima produk yang diujikan serta menunjukkan minat untuk membeli apabila harga produk dapat bersaing dengan mie berbasis terigu.

Dari aspek sensori, kenampakan, warna, aroma, dan cita rasa mie MOCAF dinilai sudah sangat baik. Namun demikian, responden memberikan masukan bahwa tekstur mie masih perlu disempurnakan karena dinilai kurang elastis.

Uji produk juga mengungkap sejumlah tantangan dalam pengembangan pasar MOCAF. Sebagian responden mengaku belum mengenal MOCAF maupun fungsinya sebagai bahan substitusi tepung terigu. Ketersediaan MOCAF di pasaran juga masih terbatas, sementara harga MOCAF dinilai relatif lebih tinggi dibandingkan terigu. Bahkan, sebagian besar responden belum pernah mengonsumsi produk pangan berbasis MOCAF, termasuk mie MOCAF.

Temuan tersebut sekaligus menjadi masukan penting bagi tim pengembang. Pengembangan mie MOCAF tidak hanya membutuhkan penyempurnaan teknologi dan mutu produk, tetapi juga perlu diikuti dengan penguatan edukasi konsumen, ketersediaan bahan baku, efisiensi biaya produksi, serta strategi distribusi dan pemasaran.

Menariknya, di tengah keterbatasan pengetahuan dan pengalaman konsumen terhadap MOCAF, responden justru menunjukkan antusiasme terhadap mie MOCAF yang telah diuji. Mereka berharap produk tersebut dapat segera diproduksi secara massal dan mudah diperoleh masyarakat dengan harga yang terjangkau dan kompetitif.

Respons tersebut menjadi sinyal positif bagi proses hilirisasi inovasi. Bagi tim UNSOED, hasil uji produk bukan sekadar pengukuran penerimaan konsumen, tetapi juga menjadi dasar untuk melakukan penyempurnaan produk sekaligus mempersiapkan mie MOCAF agar semakin dekat dengan kebutuhan pasar.

Melalui Program Hiliriset Dorongan Teknologi KEMENDIKTISAINTEK, UNSOED terus mendorong agar inovasi berbasis komoditas lokal tidak berhenti pada tahap penelitian. Pengembangan mie MOCAF diarahkan untuk menghasilkan produk yang memiliki kesiapan teknologi, mutu, regulasi, model bisnis, serta peluang komersialisasi sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi komoditas singkong sekaligus mendukung diversifikasi pangan nasional.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x