Surabaya – Risiko geopolitik menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negara-negara berkembang. Ketidakpastian akibat dinamika hubungan internasional, konflik, maupun perselisihan perdagangan kerap berdampak pada pertumbuhan ekonomi, stabilitas sosial, hingga kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, diperlukan strategi mitigasi agar ketegangan global tidak menghambat pembangunan berkelanjutan.
Resiliensi menghadapi tantangan geopolitik bukan hanya soal memperkuat struktur ekonomi, tetapi juga membangun kohesi sosial serta dukungan komunitas. Ketika masyarakat merasa aman dan bersatu, mereka lebih siap menghadapi tekanan eksternal. Program pendidikan dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menumbuhkan daya adaptasi dan inovasi di tengah perubahan.
Sejalan dengan semangat tersebut, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) akan menyelenggarakan The 9th International Conference of Unair Postgraduate School (ICPS 2025) dengan tema “Geopolitical Risk and Resilience on Developing for a Better World”. Konferensi internasional ini akan digelar secara hybrid pada 17 September 2025 di Majapahit Hall, ASEEC Tower, Kampus C UNAIR.
Ajang ilmiah bergengsi ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, antara lain Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin (Rektor UNAIR) sebagai pemberi sambutan, serta Ir. Budi Hanggoro, MPE (Menteri Perhubungan RI) sebagai keynote speaker. Selain itu, turut hadir pembicara internasional dan praktisi dari berbagai bidang seperti energi, ekonomi, manajemen risiko, hingga ilmu sosial.
Melalui ICPS 2025, UNAIR menghadirkan ruang kolaborasi bagi peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk mendiskusikan solusi inovatif dalam menghadapi risiko geopolitik dan memperkuat resiliensi bangsa. Harapannya, konferensi ini dapat melahirkan gagasan strategis demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan dunia yang lebih baik. (*na)
No Comments