PRINGSEWU – Tim dosen Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) mengimplementasikan program TIGA DIGIT (Penerapan Digitalisasi Produksi berbasis Internet of Things/IoT, Digitalisasi Pemasaran, dan Digitalisasi Akuntansi) di UMKM Hidroponik GEH Lampung, Sabtu (11/7/2026). Program pengabdian kepada masyarakat tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing UMKM melalui penerapan teknologi digital secara terintegrasi.
Program ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang memperoleh pendanaan Program Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Tim pelaksana dipimpin Fauzan Fuadi, S.Ak., M.Sc., dengan anggota Nur Aminudin, S.Kom., M.T.I. dan Dr. Sc. Ir. Agus Wantoro, S.Kom., M.Kom., IPM., ASEAN Eng., serta melibatkan mahasiswa Farel Andika, Husein Fadhilah, dan Rizki Fadilah sebagai bagian dari implementasi Program Kampus Berdampak, yang mendorong kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam memberikan solusi atas permasalahan nyata di masyarakat.
Ketua tim pelaksana, Fauzan Fuadi, mengatakan transformasi digital menjadi kebutuhan bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, dan memperkuat daya saing usaha.
"Melalui program ini kami menghadirkan teknologi yang mudah diterapkan, tepat guna, dan berkelanjutan sehingga dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pemasaran, serta memperkuat daya saing usahanya," ujarnya.
Pada aspek produksi, tim mengimplementasikan sistem Internet of Things (IoT) berupa teknologi pemantauan dan pengendalian pH serta nutrisi hidroponik secara otomatis yang terintegrasi dengan aplikasi berbasis web dan telepon pintar. Sistem tersebut memungkinkan kondisi tanaman dipantau secara real time sehingga proses budidaya menjadi lebih efisien dan akurat.
Nur Aminudin menjelaskan, penerapan teknologi pertanian modern tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas hasil produksi sekaligus meminimalkan risiko kesalahan dalam pengelolaan nutrisi tanaman.
"Sistem kontrol pH dan nutrisi berbasis IoT ini diharapkan dapat membantu mitra meningkatkan kualitas hasil produksi, mengurangi risiko kesalahan pengelolaan, serta mendukung penerapan pertanian modern yang lebih efektif dan efisien," katanya.
Selain digitalisasi produksi, tim juga mengembangkan website UMKM Hidroponik GEH Lampung sebagai sarana promosi dan pemasaran digital. Website tersebut dilengkapi katalog produk, profil usaha, artikel edukasi, testimoni pelanggan, hingga fitur pemesanan yang terintegrasi dengan WhatsApp.
Agus Wantoro mengatakan pemanfaatan website menjadi salah satu strategi untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan profesionalitas usaha.
"Digital marketing melalui website tidak hanya memperluas jangkauan pasar, tetapi juga meningkatkan branding, profesionalitas usaha, dan kepercayaan konsumen. Integrasi teknologi digital pada sektor pertanian menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan," ujarnya.
Tim pengabdian juga memberikan pelatihan penggunaan aplikasi SIAPIK (Sistem Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan) yang dikembangkan Bank Indonesia untuk membantu mitra melakukan pencatatan keuangan secara digital, menyusun laporan keuangan sederhana, serta mengevaluasi perkembangan usaha secara lebih terukur.
Seluruh kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang melibatkan mitra secara aktif sejak tahap identifikasi kebutuhan, pelaksanaan program, hingga evaluasi dan penyusunan rencana keberlanjutan.
Founder Hidroponik GEH Lampung, Naufal Farhani Kamal, S.P., mengatakan usaha yang dirintis sejak 2020 tersebut berawal dari kebun percontohan di Pondok Pesantren Nurul Huda dan kini berkembang menjadi pemasok sayuran hidroponik bagi berbagai pelaku UMKM kuliner di Kabupaten Pringsewu dan sekitarnya.
"Kami ingin menjadi jembatan bagi pelaku UMKM dengan menyediakan pasokan sayuran segar secara langsung sehingga mereka dapat lebih fokus mengembangkan usaha tanpa harus menghabiskan banyak waktu mencari bahan baku," ujarnya.
Menurut Naufal, pemanfaatan teknologi digital, termasuk IoT dan energi panel surya, telah meningkatkan efisiensi operasional usaha. Ia juga mengapresiasi kolaborasi dengan Universitas Aisyah Pringsewu yang dinilai mampu mempercepat penerapan inovasi di sektor pertanian.
"Kami percaya sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku usaha akan memberikan banyak manfaat serta mendorong perkembangan pertanian modern di masa depan," katanya.
Melalui program yang didukung pendanaan BIMA Tahun Anggaran 2026 tersebut, Universitas Aisyah Pringsewu menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Program TIGA DIGIT diharapkan menjadi model pemberdayaan UMKM berbasis digital yang dapat direplikasi pada berbagai sektor usaha lain sekaligus mendukung penguatan ekosistem ekonomi digital, pertanian modern, dan ketahanan pangan di Provinsi Lampung. (*na)
No Comments