x

banner 300250

Dari Kebun Nenas ke Koperasi: UNSOED Dorong Hilirisasi Nenas Desa Penampi Bengkalis

6 minutes reading
Tuesday, 22 Sep 2026 19:37 66 enha

Melimpahnya buah nenas di Desa Penampi, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, mulai diarahkan menjadi kekuatan ekonomi baru masyarakat. Tidak lagi sekadar dijual sebagai buah segar, nenas Penampi didorong untuk diolah menjadi beragam produk pangan bernilai tambah, sementara limbahnya dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Upaya tersebut dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) melalui Pusat Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP), dalam Program Prioritas dan Strategis Ajakan Industri dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KEMENDIKTISANTEK).

Program yang mengusung tema “Hilirisasi Teknologi Pengolahan Buah Nenas Berbasis Zero Waste untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Koperasi Merah Putih di Wilayah Sentra Komoditas” tersebut dilaksanakan bersama mitra di Desa Penampi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Salah satu rangkaian penting program dilaksanakan pada 21–22 September 2026, melalui kegiatan transfer teknologi, pelatihan, dan pendampingan produksi olahan nenas dan pemanfaatan limbah nenas. Pada saat yang sama, UNSOED juga memberikan coaching pengelolaan usaha koperasi serta pendampingan terkait penyiapan pembangunan fisik Koperasi Merah Putih Desa Penampi.

Mengubah Potensi Nenas Menjadi Kekuatan Ekonomi

Desa Penampi merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi tanaman nenas. Namun, selama ini sebagian besar nenas masih dipasarkan dalam bentuk segar. Buah yang tidak memenuhi standar sortasi belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian kecil telah diolah menjadi produk seperti selai dan dodol, tetapi kualitas dan kesiapan produknya untuk dipasarkan masih perlu ditingkatkan. Sementara itu, bagian buah maupun limbah tanaman nenas lainnya juga belum dimanfaatkan secara optimal.

Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pengembangan ekonomi masyarakat. Karena itu, program UNSOED tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan pangan, tetapi membangun pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari bahan baku, proses produksi, diversifikasi produk, pemanfaatan limbah, pengelolaan usaha, hingga kesiapan koperasi sebagai penggerak komersialisasi.

Pendekatan yang digunakan adalah hilirisasi teknologi berbasis zero waste, sehingga nenas tidak berhenti sebagai komoditas pertanian, tetapi dikembangkan menjadi portofolio produk pangan dan produk pemanfaatan limbah. Teknologi yang dikembangkan diarahkan untuk menghasilkan lima diversifikasi produk olahan nenas, yaitu minuman jeli, ready-to-drink beverage, fruit tea, koktail, squash, dan selai, serta produk pemanfaatan limbah berupa pupuk organik cair dan padat.

Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem usaha multiproduk berbasis nenas sekaligus membuka peluang penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

Teknologi Tidak Berhenti di Laboratorium

Ketua LPPM UNSOED, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, MP., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan inovasi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat serta dunia usaha.

“UNSOED memiliki teknologi untuk mengolah buah nenas dan limbahnya menjadi berbagai produk bernilai tambah. Melalui Program Ajakan Industri, teknologi tersebut kami transfer dan dampingi agar dapat diterapkan oleh mitra, dikembangkan menjadi produk yang siap dipasarkan, dan pada akhirnya memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan hilirisasi bukan hanya diukur dari terciptanya produk baru, tetapi juga dari kemampuan mitra mengoperasikan teknologi, mengelola usaha, membangun pasar, serta menjaga keberlanjutan kegiatan setelah program selesai.

Karena itu, UNSOED hadir tidak hanya dalam aspek teknologi pangan, tetapi juga melalui kolaborasi multidisiplin. Tim melibatkan pakar teknik sipil Dr. Ir. Nor Intang Setyo Hermanto, ST., MT., pakar agribisnis Dr. Irene Kartika, SP., MSc., pakar rekayasa pangan Prof. Dr. Nur Aini, STP., M.Si., serta pakar keteknikan pertanian Dr. Furqon, STP., M.Si.

Kolaborasi lintas bidang tersebut dirancang untuk mendukung teknologi produksi, pengelolaan usaha, pemanfaatan limbah, hingga penguatan sarana dan prasarana koperasi.

Dari Produksi hingga Pengelolaan Koperasi

Ketua Program Ajakan Industri sekaligus Koordinator Puskor IHSP LPPM UNSOED, Dr. Santi Dwi Astuti, STP., M.Si., menjelaskan bahwa kerja sama dengan Desa Penampi telah dimulai sejak akhir Tahun 2025.

“Program ini kami desain bukan hanya sebagai kegiatan pelatihan produksi, tetapi sebagai proses hilirisasi teknologi secara utuh. Mitra tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga kami dampingi dalam standardisasi proses, pengembangan produk, pengujian penerimaan konsumen, pengelolaan usaha, hingga kesiapan komersialisasi,” jelasnya.

Sejumlah kegiatan telah dilakukan, antara lain penyusunan SOP formula dan proses produksi berbagai produk olahan nenas dan limbah nenas, penyediaan bahan dan peralatan produksi, pembuatan produk untuk penyusunan spesifikasi dan persiapan sertifikasi, serta pengujian penerimaan konsumen.

Program juga menempatkan konsumen sebagai bagian penting dalam proses hilirisasi. Produk yang dikembangkan diuji untuk mengetahui tingkat kesukaan dan penerimaan pasar. Dalam rancangan program, uji konsumen menjadi salah satu instrumen untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan bukan hanya layak secara teknologi, tetapi juga memiliki peluang diterima oleh pasar.

Transfer teknologi dilakukan secara langsung maupun daring. Mengingat jarak UNSOED dengan Desa Penampi yang cukup jauh, pendampingan dilakukan secara intensif melalui pertemuan daring di antara kunjungan lapangan. Tim juga menyiapkan buku teknologi tepat guna dan video tutorial agar mitra dapat mengulang proses produksi secara mandiri.

Limbah Nenas Diubah Menjadi Produk Bernilai

Salah satu kekuatan program adalah penerapan prinsip zero waste.

Dalam pengembangan teknologi tersebut, limbah nenas tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan. Program secara khusus memasukkan pengembangan pupuk organik cair dan padat dari limbah nenas sebagai bagian dari sistem ekonomi sirkular.

Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi limbah dari aktivitas pengolahan sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru. Dengan demikian, nilai ekonomi komoditas nenas dapat diperpanjang dari buah hingga bagian yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.

Koperasi Merah Putih sebagai Penggerak Hilirisasi

Selain teknologi produksi, penguatan kelembagaan menjadi bagian penting dari program. UNSOED memberikan coaching mengenai pengelolaan usaha koperasi serta pendampingan penyiapan bangunan fisik Koperasi Merah Putih Desa Penampi.

Hal ini sejalan dengan rancangan program yang menempatkan mitra sebagai lead adopter dan penggerak komersialisasi teknologi. Model bisnis, studi kelayakan, sistem pengelolaan usaha multiproduk, produksi, mutu, distribusi, serta pemasaran dirancang agar dapat diterapkan dalam lingkungan usaha yang nyata.

Dengan demikian, Koperasi Merah Putih diharapkan tidak hanya menjadi lembaga administrasi ekonomi masyarakat, tetapi berkembang sebagai pusat aktivitas usaha berbasis komoditas unggulan lokal.

Kepala Desa Penampi menyambut baik pendampingan tersebut. Pemerintah desa berharap pengembangan nenas dapat dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak kelompok produktif masyarakat, termasuk kelompok tani, UMKM, PKK, dan kelompok masyarakat lainnya.

Penampi bahkan diarahkan untuk membangun sosio-agrotechnopreneurship berbasis potensi unggulan nenas—sebuah ekosistem yang mempertemukan potensi pertanian, teknologi, kewirausahaan, kelembagaan masyarakat, dan pasar.

Dari Potensi Lokal Menuju Industri Desa

Program Ajakan Industri UNSOED di Penampi pada akhirnya membawa pesan yang lebih besar: hilirisasi riset harus mampu hadir di tengah masyarakat dan menghasilkan perubahan nyata.

Teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada penciptaan produk, tetapi diarahkan menuju peningkatan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT), standardisasi proses, validasi mutu, penerimaan konsumen, kelayakan usaha, sertifikasi, serta kesiapan komersialisasi. Program menargetkan peningkatan TKT dari posisi awal 5 menuju TKT 7 atau 8.

Ke depan, UNSOED akan tetap berperan sebagai technology partner yang mendukung pengembangan inovasi, peningkatan mutu, dan pengembangan produk baru. Sementara itu, mitra diharapkan berkembang sebagai penggerak produksi dan komersialisasi. Dan ke depan, untuk keberlanjutan hilirisasi nenas ini, akan dilakukan melalui sinergi dan kolaborasi dengan Politeknik Negeri Bengkalis Riau.

Dengan model tersebut, nenas Penampi tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas yang dipanen dan dijual. Nenas dapat menjadi bahan baku bagi beragam produk pangan, limbahnya dapat dikonversi menjadi produk bernilai ekonomi, dan koperasi dapat menjadi simpul penggerak usaha masyarakat.

Dari nenas, tumbuh produk. Dari produk, tumbuh usaha. Dan dari usaha, tumbuh kemandirian ekonomi masyarakat Desa Penampi.

Dokumentasi Kegiatan terlampir.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x