PURWOKERTO – Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) terus mendorong hasil riset dan inovasi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha. Melalui program prioritas dan strategis Ajakan Industri Kemendiktisaintek, LPPM UNSOED melalui Pusat Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP) mengembangkan teknologi pengolahan nanas berbasis zero waste bersama Koperasi Merah Putih Desa Penampi, Kabupaten Bengkalis, Riau.
Desa Penampi memiliki potensi komoditas nanas yang besar, namun hingga saat ini pemanfaatannya belum optimal sebagai produk olahan bernilai tambah. Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan. Melalui program bertajuk “Hilirisasi Teknologi Pengolahan Buah Nanas Berbasis ‘Zero Waste’ untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Koperasi Merah Putih di Wilayah Sentra Komoditas”, LPPM UNSOED mengintroduksikan teknologi pengolahan untuk mengubah nanas segar menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Salah satu tahapan penting program dilaksanakan pada Senin, 14 September 2026, melalui uji enam produk olahan nanas, yaitu koktail, squash, jelly drink, fruit tea, ready to drink (RTD), dan selai. Kegiatan dibuka oleh Sekretaris LPPM UNSOED, Dr. Sri Wahyu Handayani, SH., M.H.
Uji produk melibatkan 300 responden yang merupakan mitra Puskor IHSP LPPM UNSOED, terdiri atas kelompok masyarakat nonproduktif ekonomi seperti PKK, kelompok masyarakat produktif ekonomi seperti BUMDes dan koperasi, pelaku UMKM, dinas, serta pemerintah daerah. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan memberikan masukan mengenai penerimaan, preferensi, dan potensi pengembangan produk sebelum memasuki tahapan hilirisasi berikutnya.
Program ini dipimpin Dr. Santi Dwi Astuti, STP., M.Si., Ketua Program Ajakan Industri, yang juga merupakan Dosen Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian UNSOED sekaligus Koordinator Puskor IHSP LPPM UNSOED.
Menurut Dr. Santi, hilirisasi teknologi pengolahan nanas tidak hanya bertujuan menghasilkan produk baru, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengolah potensi lokal menjadi sumber pendapatan baru.
“Potensi nanas di Penampi sangat besar. Melalui introduksi teknologi pengolahan, kami berharap nanas tidak hanya dijual sebagai bahan segar, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah yang mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan zero waste menjadi salah satu kekuatan program. Teknologi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk pangan, tetapi juga mendorong pemanfaatan hasil samping pengolahan sehingga dapat mendukung konsep ekonomi sirkular. Program dirancang untuk meningkatkan kesiapterapan teknologi dari TKT 6 menuju TKT 8, melalui validasi proses, karakterisasi mutu, penyusunan SOP, pengujian penerimaan konsumen, hingga penerapan pada lingkungan industri.
Bagi Koperasi Merah Putih Desa Penampi, teknologi yang diperkenalkan UNSOED diharapkan menjadi fondasi pengembangan usaha berbasis komoditas lokal. Bagi petani, berkembangnya industri pengolahan di tingkat lokal diharapkan dapat memperluas pasar nanas, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani nanas di Bengkalis.
Sementara bagi UNSOED, kegiatan ini memperkuat pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, pencapaian IKU, kontribusi terhadap SDGs, serta peran Puskor IHSP dalam mengembangkan, menerapkan, mendiseminasikan, mem-branding, dan mendorong hilirisasi hasil riset dan inovasi perguruan tinggi.
Melalui kolaborasi UNSOED, Koperasi Merah Putih Desa Penampi, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah, potensi nanas Bengkalis diharapkan dapat bergerak dari komoditas menjadi produk, dari produk menjadi usaha, dan dari usaha menjadi sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dokumentasi kegiatan :











No Comments