x

banner 300250

Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB Kembangkan Konsep CCS-Ready Well yang Efisien dan Ekonomis

5 minutes reading
Wednesday, 26 Aug 2026 11:00 4 Amin

BANDUNG – Dua mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB), Ilham Rezy Saputra dan Felix Marco Efendi, membawa inovasi pengembangan sumur untuk Carbon Capture and Storage (CCS) ke forum internasional SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology 2026 yang berlangsung di The Westin Resort Nusa Dua, Bali, pada 5–6 Agustus 2026.

Dalam konferensi yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan praktisi industri bidang drilling dari kawasan Asia Pasifik tersebut, Ilham dan Felix mempresentasikan penelitian berjudul “Design and Conversion Strategies for Transitioning Conventional Wells into CCS Injection Wells: A Cost-Effective and Integrity-Focused CCS-Ready Approach.”

Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Galih Cahyono, alumnus Teknik Perminyakan ITB yang kini berkiprah sebagai profesional di bidang drilling. Kolaborasi antara mahasiswa dan praktisi industri tersebut menghasilkan kajian yang memadukan perspektif akademik dengan kebutuhan dan tantangan teknis di lapangan.

SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology 2026 diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE) dan International Association of Drilling Contractors (IADC) sebagai forum pertukaran pengetahuan dan perkembangan teknologi di bidang drilling engineering. Keikutsertaan Ilham dan Felix menjadi kesempatan untuk membawa gagasan mahasiswa ITB ke ruang diskusi profesional yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan industri energi di kawasan Asia Pasifik.

Penelitian yang mereka presentasikan mengangkat strategi konversi sumur minyak dan gas konvensional menjadi sumur injeksi karbon dioksida (CO₂) untuk kebutuhan CCS. Fokus kajian mencakup penyusunan persyaratan teknis untuk memastikan integritas sumur injeksi, mulai dari desain skematik sumur, desain cement, pemilihan material tubular dan seal, hingga analisis potensi korosi.

Dua strategi pengembangan sumur kemudian dievaluasi berdasarkan persyaratan teknis sumur injeksi CCS dan aspek well barrier integrity. Dari kajian tersebut, tim memperkenalkan konsep CCS-Ready Well, yaitu pendekatan perancangan sumur yang sejak awal mempertimbangkan dua fase pengembangan, yakni fase produksi dan fase injeksi CO₂.

Konsep tersebut menawarkan perspektif berbeda dibandingkan pendekatan konvensional yang umumnya merancang sumur berdasarkan satu tujuan utama. Dengan mempertimbangkan kebutuhan injeksi CO₂ sejak tahap awal, desain sumur dapat dipersiapkan untuk mendukung siklus pengembangan yang lebih panjang, termasuk pemanfaatan infrastruktur setelah fase produksi berakhir.

Aspek teknis tersebut kemudian dilengkapi dengan analisis ekonomi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa strategi CCS-Ready Well diperkirakan membutuhkan tambahan biaya sekitar 25–35 persen dibandingkan pembangunan sumur produksi konvensional.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persiapan sumur untuk kebutuhan CCS sejak tahap awal berpotensi menjadi pilihan yang lebih efisien secara ekonomi dibandingkan melakukan perubahan desain atau konversi infrastruktur pada tahap berikutnya. Pendekatan ini sekaligus membuka peluang untuk mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur sumur dalam mendukung pengembangan proyek penyimpanan karbon di masa depan.

Ilham mengatakan gagasan tersebut berangkat dari keinginan untuk mengembangkan inovasi yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan industri saat ini, tetapi juga mampu mengantisipasi arah transformasi sektor energi.

“Melalui penelitian yang berjudul Design and Conversion Strategies for Transitioning Conventional Wells into CCS Injection Wells: A Cost-Effective and Integrity-Focused CCS-Ready Approach, kami berupaya menghadirkan sebuah pendekatan yang visioner. Kami tidak lagi hanya berfokus pada fase produksi semata, melainkan sudah merancang siklus hidup sumur pascaproduksi,” kata Ilham.

Menurutnya, pengembangan konsep tersebut menempatkan keselamatan dan integritas sumur sebagai aspek utama, sekaligus mempertimbangkan kelayakan ekonomi agar dapat menjadi alternatif yang realistis untuk diterapkan dalam pengembangan proyek CCS.

“Fokus kami adalah melihat bagaimana infrastruktur sumur dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan penyimpanan karbon di masa depan, dengan tetap memprioritaskan aspek keselamatan, integritas sumur, dan kelayakan ekonomi,” lanjutnya.

Bagi Ilham dan Felix, CCS memiliki potensi strategis dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon dan pencapaian target net zero emission. Karena itu, pengembangan teknologi pendukung CCS perlu dilakukan tidak hanya dari sisi teknologi penyimpanan, tetapi juga dari kesiapan infrastruktur yang akan digunakan.

Keduanya menilai pengembangan CCS di Indonesia membutuhkan dukungan ekosistem yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah, menurut mereka, memiliki peran penting dalam menghadirkan regulasi yang adaptif, mendorong penelitian dan pengembangan, serta menciptakan ruang kolaborasi untuk menguji dan menerapkan inovasi.

“Ke depan, kami berharap pemerintah dapat terus memperkuat dukungan terhadap pengembangan teknologi CCS, tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui riset, proyek percontohan, dan kolaborasi antara akademisi dan industri. Dengan ekosistem yang mendukung, inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat memiliki peluang lebih besar untuk diimplementasikan pada kondisi lapangan yang sebenarnya,” ujar Felix.

Selain menghasilkan kajian teknis dan ekonomi, proses penyusunan penelitian tersebut memberikan pengalaman akademik dan profesional bagi keduanya. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah memastikan setiap aspek paper memenuhi standar konferensi internasional, baik dari sisi struktur, format, metodologi, maupun substansi teknis.

Pengalaman tersebut sekaligus memperkenalkan mahasiswa pada proses bagaimana gagasan teknis dikembangkan menjadi karya ilmiah dan dikomunikasikan di hadapan komunitas profesional yang memiliki latar belakang serta pengalaman berbeda.

Keikutsertaan dalam konferensi internasional juga memberikan kesempatan bagi Ilham dan Felix untuk memperoleh wawasan mengenai perkembangan teknologi drilling dan kebutuhan industri energi di masa mendatang. Menurut mereka, transformasi industri minyak dan gas tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi baru, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan ekosistem nasional dalam mengadopsinya.

Bagi keduanya, pengalaman mempresentasikan penelitian di forum profesional menjadi bagian penting dari proses pengembangan diri sebagai mahasiswa Teknik Perminyakan. Exposure terhadap dunia industri sejak masa perkuliahan dinilai dapat membantu mahasiswa memahami persoalan nyata sekaligus mengembangkan gagasan yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.

Ilham pun mendorong mahasiswa untuk mulai aktif menghasilkan karya ilmiah dan memperluas pengalaman melalui forum profesional.

“Untuk mahasiswa, teruslah berinovasi dan berkarya. Mulailah menulis paper konferensi dan mendapatkan exposure ke dunia profesional sejak masih berada di bangku perkuliahan. Di sisi lain, kami juga berharap semakin banyak ruang yang diberikan bagi mahasiswa dan akademisi untuk terlibat dalam pengembangan teknologi strategis Indonesia, termasuk CCS,” ujar Ilham.

Keikutsertaan Ilham dan Felix di SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology 2026 menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa dapat menjadi bagian dari diskusi teknologi energi di tingkat internasional. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, gagasan mengenai CCS-Ready Well diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung pemanfaatan infrastruktur sumur yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan dalam menghadapi transformasi sektor energi. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x