Singkong bukan sekadar pangan tradisional. Di tangan perguruan tinggi dan pelaku usaha masyarakat, komoditas lokal Banjarnegara tersebut dikembangkan menjadi mocaf dan berbagai pangan alternatif yang bernilai tambah.
Upaya itu dilakukan Pusat Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan, LPPM, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penerapan Teknologi Produksi Mocaf dan Produk Pangan Pokok Alternatif Pengganti Beras dan Terigu untuk Menguatkan Daya Saing Usaha Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Unggulan Banjarnegara.” Kegiatan ini terlaksana dengan pendanaan dari KEMENDIKTISAINTEK yang dilaksanakan melalui Program PKM pada Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan Ruang Lingkup Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah dan Bidang Fokus RIRN-Pangan.
Program yang dilaksanakan secara bertahap selama tiga tahun ini memasuki tahap akhir pada 2026. Program diketuai Dr. Santi Dwi Astuti, S.TP., M.Si., dengan melibatkan mahasiswa dan bekerja sama dengan dua mitra, yakni UD Usaha Mandiri dan KWT Sinar Tani, serta mendapat dukungan dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara.
Banjarnegara merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi singkong untuk dikembangkan menjadi tepung mocaf, pati singkong, dan berbagai produk pangan olahan. Pengembangan tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung penyediaan pangan pokok alternatif pengganti beras dan terigu.
Program ini menjadi bagian dari hilirisasi hasil riset perguruan tinggi. Tim UNSOED menerapkan teknologi produksi mocaf melalui modifikasi biologis dengan fermentasi terkendali menggunakan Bimo CF. Teknologi tersebut kemudian diterapkan oleh mitra untuk menghasilkan produk yang lebih beragam dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Tidak berhenti pada tepung, pengembangan diarahkan pada berbagai produk diversifikasi, antara lain tepung premix mocaf, biskuit mocaf, mi mocaf, flakes sereal mocaf, dan beras analog mocaf. Produk dikembangkan agar memiliki prosedur produksi yang terstandar, kemasan, label, informasi gizi, serta spesifikasi produk yang jelas.
Bagi mitra, penerapan teknologi ini diharapkan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam produksi, manajemen usaha, dan pemasaran. Pada akhirnya, program diarahkan untuk meningkatkan jumlah dan variasi produk, kualitas, kapasitas produksi, omzet, serta pendapatan usaha.
Pada 2026, kegiatan difokuskan pada penguatan hasil yang telah dibangun pada dua tahun sebelumnya. Kegiatan meliputi peningkatan kapasitas produksi, pendampingan proses produksi, pengendalian dan penjaminan mutu, penguatan standardisasi produk, serta pengembangan pemasaran.

Dari sisi manajemen usaha, mitra memperoleh pendampingan melalui business coaching dan penyusunan studi kelayakan produk. Sementara dari sisi pemasaran dilakukan penguatan promosi dan pemasaran secara langsung maupun melalui media digital, disertai pencatatan dan evaluasi penjualan.
Kegiatan juga dilengkapi dengan promosi melalui pameran, monitoring dan evaluasi, serta penyusunan program keberlanjutan bersama mitra dan pemerintah daerah.
Dengan demikian, tahun ketiga diarahkan bukan sekadar menghasilkan produk, tetapi memastikan teknologi yang telah diperkenalkan dapat menjadi bagian dari sistem usaha yang berkelanjutan.
Dua mitra program memiliki karakteristik yang berbeda. UD Usaha Mandiri merupakan unit usaha pengolahan singkong menjadi mocaf dan tapioka, sedangkan KWT Sinar Tani merupakan kelompok wanita tani yang mengembangkan pengolahan singkong dan mocaf di Desa Majalengka, Kecamatan Bawang.


Pendekatan kepada kedua mitra disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Pada tahun ketiga, fokus diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi, penguatan mutu, pengembangan produk, serta perluasan pemasaran.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan komoditas lokal dapat menjadi strategi untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Singkong yang tersedia di daerah tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk pangan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Program pengabdian ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman di laboratorium dan ruang kelas, tetapi terlibat langsung dalam persoalan nyata masyarakat, mulai dari produksi, pengembangan produk, penggunaan peralatan, pengemasan, hingga pemasaran.

Keterlibatan tersebut mendukung pelaksanaan MBKM dan pencapaian IKU 2, melalui pengalaman belajar mahasiswa di luar kampus. Program juga mendukung IKU 7 melalui pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi dengan mitra. Proposal menetapkan kegiatan mahasiswa dapat direkognisi dalam pembelajaran dengan minimal 9 SKS.
Sementara bagi perguruan tinggi, kegiatan ini memperkuat IKU 5, yaitu pemanfaatan hasil kerja dosen oleh masyarakat. Teknologi produksi mocaf dan produk diversifikasinya merupakan hasil riset terapan yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi diterapkan dan dikembangkan langsung bersama pelaku usaha.
Pengembangan mocaf memiliki relevansi yang lebih luas daripada sekadar pengembangan produk UMKM. Program ini mendukung diversifikasi pangan dan pemanfaatan sumber daya lokal untuk menyediakan alternatif pangan pokok.
Kegiatan dikaitkan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan pangan alternatif berbasis singkong dan mocaf untuk mendukung ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan. Program juga mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi dan teknologi tepat guna yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun sistem pangan yang lebih beragam, mandiri, dan berbasis potensi domestik. Dalam konteks Indonesia Emas 2045, penguatan teknologi, kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan ekonomi berbasis potensi lokal menjadi bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.
Program menghasilkan berbagai luaran berupa pengembangan produk mocaf dan pangan diversifikasinya, peningkatan kemampuan produksi dan manajemen mitra, penguatan pemasaran, luaran ilmiah, publikasi media, rekognisi kegiatan mahasiswa, serta kekayaan intelektual. Program ini juga menargetkan penguatan standardisasi dan sertifikasi produk (yakni sertifikasi Halal dan sertifikasi keamanan pangan HACCP) serta peningkatan omzet melalui peningkatan kapasitas produksi dan strategi pemasaran. Saat ini, mitra UD. Usaha Mandiri telah mampu memproduksi mocaf dengan mutu terstandar dengan kapasitas 100-150 ton per bulan.
Lebih jauh, dampak kegiatan ini adalah tumbuhnya kemandirian usaha masyarakat dalam mengolah singkong menjadi produk pangan bernilai tambah. Bagi pemerintah daerah, program ini mendukung optimalisasi komoditas lokal unggulan Banjarnegara sekaligus memperkuat upaya menuju ketahanan dan kemandirian pangan.
Pada akhirnya, program ini membawa satu pesan sederhana: ketahanan pangan dapat dimulai dari potensi yang ada di sekitar masyarakat. Ketika singkong dipadukan dengan teknologi, inovasi, keterampilan, kewirausahaan, dan akses pasar, komoditas lokal tidak lagi sekadar menjadi bahan pangan, tetapi dapat menjadi sumber nilai tambah dan penggerak ekonomi masyarakat.
Dari Banjarnegara, mocaf menjadi contoh bagaimana riset perguruan tinggi dapat hadir di tengah masyarakat—mengubah potensi lokal menjadi inovasi, dan mengubah inovasi menjadi peluang usaha.
Lampiran dokumentasi kegiatan dapat dilihat pada bagian di bawah ini.







No Comments