Foto Humas Politeknik Negeri Subang SUBANG — Persoalan biaya pakan dan pengelolaan budidaya menjadi tantangan yang dihadapi pembudidaya ikan air tawar di Desa Mekarwangi, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang. Menjawab persoalan tersebut, tim peneliti Politeknik Negeri Subang (POLSUB) mengembangkan mesin penebar pakan ikan otomatis yang memanfaatkan energi surya dan teknologi Internet of Things (IoT).
Teknologi tepat guna (TTG) melalui inovasi bertajuk “Pengembangan Alat Penebar Pakan Ikan Otomatis dengan Sistem Smart Integration Aquaculture Berbasis Free Energy dan IoT” itu mulai diimplementasikan kepada petani ikan di Desa Mekarwangi pada 22–23 September 2026.
Ketua Tim Peneliti POLSUB, Susilawati, mengatakan inovasi tersebut dikembangkan untuk membantu pembudidaya mengatasi persoalan pengelolaan pakan sekaligus menjaga ketersediaan energi bagi perangkat pendukung budidaya ikan.
Menurut Susilawati, Kabupaten Subang memiliki potensi besar dalam sektor perikanan. Pada 2023, Subang tercatat sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Jawa Barat dengan menempati peringkat ketiga.
Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah kendala di tingkat budidaya, termasuk manajemen pemberian pakan dan gangguan pasokan listrik yang dapat memengaruhi pengoperasian aerator atau alat penyedia oksigen di kolam.
“Fokus inovasi TTG kami adalah menggunakan tenaga surya. Dengan begitu, warga tidak perlu lagi pusing memikirkan tambahan biaya listrik. Alat ini akan menaburkan pakan secara terjadwal dengan takaran yang presisi, sekaligus menyuplai energi untuk aerator agar terus menyala tanpa henti,” jelas Susilawati saat mendemonstrasikan alat tersebut kepada para petani.
Sistem penebar pakan otomatis dirancang untuk mengatur pemberian pakan sesuai jadwal dan takaran yang telah ditentukan. Penggunaan energi surya juga memungkinkan perangkat beroperasi tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan listrik dari jaringan konvensional.
Bagi pembudidaya, pengaturan pemberian pakan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga efisiensi budidaya. Pemberian pakan secara manual tidak selalu menghasilkan distribusi yang merata. Sisa pakan yang menumpuk juga dapat memengaruhi kualitas air kolam.
Kepala Desa Mekarwangi, H. Edi Rohedi, mengatakan persoalan tersebut selama ini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari para pembudidaya, terutama ketika kondisi cuaca tidak mendukung.
Menurut Edi, penebaran pakan secara manual membutuhkan waktu dan tenaga. Selain itu, distribusi pakan yang tidak merata dapat menyebabkan sebagian ikan tidak memperoleh pakan secara optimal, sementara sisa pakan berpotensi membuat kondisi air kolam menjadi keruh.
“Semoga nanti kami tidak perlu khawatir lagi telat memberi makan ikan, karena mesinnya sudah jalan sendiri sesuai jadwal. Yang paling bikin tenang, alat ini menggunakan tenaga matahari, jadi mesin jalan terus tapi kami tidak keluar biaya listrik sepeser pun. Inovasi ini betul-betul menjawab apa yang kami butuhkan di lapangan,” ujar Edi.
Susilawati mengatakan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya membawa hasil riset perguruan tinggi agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Tim peneliti berharap penggunaan alat tersebut dapat membantu mengurangi beban pekerjaan manual pembudidaya sekaligus meningkatkan efisiensi operasional budidaya ikan.
Inovasi tersebut didukung melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis (SINERGI) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Bagi POLSUB, penerapan teknologi di Desa Mekarwangi menjadi bagian dari upaya mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan energi terbarukan dan IoT dalam budidaya ikan juga membuka peluang penerapan teknologi yang lebih efisien dan adaptif terhadap kondisi di tingkat pembudidaya. (*na)
No Comments