x

banner 300250

Pendekatan Humanistik Dinilai Penting, Sistem Pengukuran Kinerja Perguruan Tinggi Perlu Direorientasi

2 minutes reading
Saturday, 11 Apr 2026 20:05 16 Amin

YOGYAKARTA – Sistem pengukuran kinerja di perguruan tinggi dinilai masih cenderung menitikberatkan pada indikator formal dan administratif, sehingga berpotensi menggeser makna substantif aktivitas akademik. Karena itu, pendekatan humanistik dinilai penting untuk memastikan sistem tersebut tidak sekadar menjadi alat kontrol, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas akademik secara menyeluruh.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. Ietje Nazaruddin, S.E., M.Si., Ak., CA., CRP., CACP dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar bertajuk “Reorientasi Tata Kelola Akademik Menuju Pendekatan Humanistik”, Sabtu (11/4), di Ruang Sidang Utama Gedung AR Fachruddin B Lantai 5, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Menurutnya, organisasi modern, termasuk perguruan tinggi, membutuhkan sistem pengukuran kinerja sebagai instrumen untuk merencanakan, mengendalikan, dan mengevaluasi capaian. Namun, penerapan sistem tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran dosen sebagai aktor utama dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

“Dosen tidak hanya digerakkan oleh mekanisme kontrol formal, tetapi juga oleh nilai profesionalisme, motivasi intrinsik, serta komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ia menegaskan, sistem pengukuran kinerja yang dirancang tanpa mempertimbangkan dimensi psikologis dan sosial individu berpotensi kehilangan makna substantifnya sebagai instrumen pengembangan organisasi.

Lebih lanjut, dominasi indikator kinerja juga dapat memunculkan distorsi tujuan. Dalam praktiknya, alat ukur kinerja kerap bergeser menjadi tujuan utama organisasi, sehingga mendorong individu untuk sekadar mengejar capaian angka tanpa memperhatikan kualitas yang sesungguhnya.

“Ketika organisasi terlalu fokus pada angka, maka individu di dalamnya cenderung bekerja untuk memenuhi indikator tersebut. Akibatnya, kualitas kerja yang sebenarnya bisa terabaikan,” jelasnya.

Prof. Ietje menambahkan, efektivitas sistem pengukuran kinerja tidak hanya ditentukan oleh desain teknis, tetapi juga oleh bagaimana individu memahami dan merespons sistem tersebut. Persepsi dosen terhadap tujuan implementasi sistem menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan tata kelola akademik.

Oleh karena itu, pendekatan humanistik dinilai perlu diintegrasikan dalam sistem pengukuran kinerja, agar tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme kontrol, tetapi juga sebagai instrumen yang mendukung pengembangan individu dan peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.

“Dengan pendekatan humanistik, perguruan tinggi dapat menjaga keseimbangan antara pencapaian target institusi dan penguatan kualitas akademik yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x