x

banner 300250

Prof. R. Eko Indrajit Paparkan Transformasi Pendidikan Tinggi di Era Medsos dan AI dalam Webinar MISI ke-038

3 minutes reading
Friday, 14 Nov 2025 22:41 73 Amin

Yogyakarta — Masyarakat Informatika Sosial Indonesia (MISI) kembali menyelenggarakan Webinar Seri ke-038 secara daring pada Jumat, 14 November 2025, menghadirkan pakar teknologi dan pendidikan nasional, Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., MBA., M.Phil., MA, sebagai pemantik diskusi dengan topik “Transformasi Bentuk Pendidikan Tinggi di Era Dominasi Medsos dan AI.”

Webinar yang berlangsung pukul 20.00–22.00 WIB ini dipandu oleh Agus Fanar Syukri sebagai host dan Bambang Nurcahyo Prastowo sebagai moderator. Acara ini menarik perhatian akademisi, pendidik, mahasiswa, dan pemerhati teknologi pendidikan dari seluruh Indonesia yang mengikuti melalui tautan Zoom s.id/WebinarMISI2.

Dalam paparannya, Prof. Eko Indrajit yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Pradita dan dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam bidang komputer, digital transformation, serta educational technology menekankan bahwa perubahan besar dalam pendidikan tinggi tak terhindarkan akibat perkembangan pesat media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan ekosistem digital global.

Humanizing Education di Tengah Generative AI

Mengangkat substansi dari materi bertajuk “Humanizing Education through Generative AI and Scalable Intelligence,” Prof. Indrajit menegaskan bahwa pusat transformasi pendidikan bukan hanya teknologi, tetapi kemanusiaan. Menurutnya, generative AI harus digunakan untuk memperkuat peran dosen dan mahasiswa dalam aspek-aspek seperti empati, kreativitas, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis.

Ia memaparkan konsep kunci bahwa pendidikan modern harus bersifat humanizing, yakni memanusiakan peserta didik melalui pendekatan holistik yang memadukan kebutuhan emosional, sosial, budaya, dan akademik.

AI tidak menggantikan manusia. AI memperbesar kapasitas manusia,” tegasnya.

AI: Dari Mispersepsi Menuju Etika dan Tanggung Jawab

Prof. Eko juga menjelaskan berbagai mispersepsi AI, mulai dari anggapan bahwa AI adalah alat plagiarisme hingga keyakinan bahwa AI menghilangkan kreativitas. Padahal, dalam riset dan pendidikan, AI berfungsi sebagai kolaborator, penguat produktivitas, dan infrastruktur modern penelitian.

Ia menekankan bahwa etika adalah fondasi. AI harus digunakan dengan prinsip:

  • Transparansi: menyebutkan penggunaan AI dalam karya ilmiah.

  • Verifikasi: tidak menerima hasil AI secara mentah.

  • Privacy Respect: melindungi data sensitif.

  • Human-in-the-loop: manusia tetap pengendali keputusan.

Mengkhawatirkan AI bukan berarti menolaknya. Etika bukan larangan, tetapi panduan penggunaan yang bertanggung jawab,” jelasnya.

H.A.R.M.O.N.Y Framework: Masa Depan Pendidikan Tinggi

Salah satu poin utama pemaparan Prof. Eko adalah hadirnya kerangka futuristik H.A.R.M.O.N.Y (Humanizing–Adaptive–Resilient–Modular–Open–Networked–Yielding) sebagai desain ekosistem pendidikan yang terintegrasi dengan generative AI. Framework ini menempatkan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran melalui:

  • Hyper-personalized learning

  • Culturally responsive content

  • AI-assisted mentorship

  • Kolaborasi lintas budaya dan negara

  • Ekosistem pembelajaran yang resilien dan berkelanjutan

Kita memasuki era pendidikan 6.0, ketika interaksi manusia–mesin menjadi simbiosis yang memperluas kecerdasan kolektif masyarakat,” ujarnya.

Pendidikan Tinggi Wajib Melampaui Batas Lama

Dalam konteks dominasi media sosial dan AI, Prof. Eko menegaskan bahwa perguruan tinggi memerlukan redefinisi besar-besaran terhadap:

  • Model pembelajaran dan kurikulum,

  • Peran dosen sebagai fasilitator inovasi,

  • Mekanisme penilaian yang adaptif dan autentik,

  • Infrastruktur digital yang inklusif,

  • Kesiapan budaya organisasi dalam menerima perubahan.

Masa depan pendidikan bukan berfokus pada kompetisi, melainkan ko-kreasi antara manusia dan teknologi,” tuturnya.

Penutup: Ajakan Berani Bertransformasi

Di akhir sesi, Prof. Eko mengajak seluruh insan pendidikan untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pemimpin perubahan.

AI tidak akan menggantikan peneliti atau pendidik. Tetapi mereka yang mampu berkolaborasi dengan AI-lah yang akan memimpin masa depan sains dan pendidikan.”

Webinar MISI 038 ini menjadi salah satu diskusi paling strategis dalam memetakan arah baru pendidikan tinggi Indonesia menghadapi revolusi digital dan gelombang besar kecerdasan buatan. (*na)

Download Materi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x