YOGYAKARTA – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus mendorong penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal melalui program pengabdian di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cangkringan. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan model kolaborasi lintas disiplin yang berorientasi pada keberlanjutan.
Ketua Badan Pembina Harian UMY, Dr. H. Agung Danarto, menegaskan bahwa pendekatan multidisiplin menjadi kunci dalam merumuskan solusi yang komprehensif bagi masyarakat.
“Kolaborasi antarbidang, mulai dari pertanian hingga kedokteran, akan menghasilkan dampak yang lebih luas, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga kesehatan dan edukasi masyarakat,” ujarnya saat peluncuran program pengabdian masyarakat skema khusus PCM dan PCA Cangkringan, Jumat (10/4).
Salah satu fokus utama program ini adalah pengembangan greenhouse yang difungsikan sebagai pusat produksi sekaligus sarana edukasi. Inisiatif tersebut dinilai strategis, mengingat wilayah Cangkringan memiliki potensi lahan yang cukup besar, namun belum sepenuhnya dioptimalkan dengan dukungan teknologi modern.
Ketua PCM Cangkringan, H. M. Jarum Anwar, menyebut program ini sebagai peluang untuk mengubah potensi lahan menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat.
“Dengan pendampingan teknologi dan keberlanjutan program, lahan yang ada dapat menjadi aset produktif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Selain aspek produksi, inovasi teknologi juga menjadi perhatian utama. Tim pengabdian merancang sistem otomatisasi greenhouse yang ke depan akan diarahkan menggunakan energi terbarukan. Langkah ini dinilai selaras dengan upaya mewujudkan sistem pertanian yang efisien, modern, dan ramah lingkungan.
Subdirektorat Pengabdian Dosen, Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY, Dr. drg. Laelia Dwi Anggraini, menambahkan bahwa program ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi berkembang menjadi model pengabdian berkelanjutan.
“Greenhouse ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat dalam mengelola potensi lokal secara mandiri,” jelasnya.
Dengan pendekatan integratif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu serta dukungan aktif masyarakat, program ini diharapkan dapat menjadi model pengabdian berbasis komunitas yang adaptif terhadap tantangan zaman. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan. (*na)
No Comments