x

banner 300250

Mahasiswa Profesi Bidan UAP Perkuat Kompetensi Kebidanan Komunitas melalui Praktik di Thailand dan Metro

4 minutes reading
Sunday, 9 Aug 2026 10:50 7 Amin

PRINGSEWU – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kesehatan, Universitas Aisyah Pringsewu (UAP), memperkuat kompetensi profesional melalui pelaksanaan praktik komunitas di dua lokasi, yakni Phatumthani, Thailand, dan Imopuro, Metro, Lampung. Kegiatan yang berlangsung pada 4–8 Agustus 2026 tersebut diikuti 15 mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran profesi Tahun Akademik 2026/2027.

Sebanyak delapan mahasiswa melaksanakan praktik komunitas di Phatumthani, Thailand, sementara tujuh mahasiswa lainnya ditempatkan di Imopuro, Metro. Pelaksanaan praktik di dua lokasi tersebut memberikan pengalaman pembelajaran yang beragam sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan kebidanan berbasis individu, keluarga, dan komunitas.

Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan UAP, Rika Agustina, S.ST., Bdn., M.Keb., mengatakan praktik komunitas merupakan bagian penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa agar siap menjalankan peran profesional sebagai bidan.

“Praktik komunitas memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Mahasiswa juga belajar melakukan pengkajian, mengidentifikasi masalah, menyusun intervensi, serta mengevaluasi pelayanan yang diberikan,” ujar Rika.

Menurutnya, pembelajaran melalui pengalaman langsung di masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan mahasiswa secara utuh. Bidan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi klinis, tetapi juga harus mampu memahami kondisi sosial, budaya, lingkungan, serta kebutuhan kesehatan masyarakat.

Selama praktik, mahasiswa melakukan pengkajian wilayah dan komunitas, analisis situasi sosial dan gender, identifikasi permasalahan kesehatan, penyusunan diagnosis, perencanaan dan implementasi pelayanan kebidanan, hingga monitoring dan evaluasi kegiatan.

“Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan kesehatan di masyarakat. Karena itu, praktik komunitas diarahkan pada edukasi, promosi kesehatan, pemberdayaan perempuan dan keluarga, serta kolaborasi dengan masyarakat,” kata Rika.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan mendapatkan pendampingan dari pembimbing akademik serta pembimbing lahan praktik. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa mampu melaksanakan kegiatan sesuai kompetensi yang ditetapkan dalam pembelajaran profesi.

Selain memberikan asuhan kebidanan, mahasiswa juga melaksanakan kegiatan penyuluhan, edukasi, dan pelatihan yang berkaitan dengan asuhan kebidanan komplementer kepada keluarga, kader, rekan sejawat, maupun masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, konseling, promosi kesehatan, serta edukasi yang sesuai dengan kebutuhan komunitas.

Mahasiswa juga melaksanakan kegiatan pemberdayaan perempuan, keluarga, dan masyarakat melalui inovasi berupa produk berbasis kearifan lokal. Kegiatan pembelajaran tersebut diperkuat dengan telaah jurnal dan critical appraisal sebagai bagian dari pengembangan kemampuan berpikir ilmiah dan pengambilan keputusan berbasis bukti.

Praktik komunitas juga diarahkan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan secara holistik, komprehensif, dan berkesinambungan pada seluruh siklus kehidupan perempuan dan anak. Kompetensi yang dikembangkan meliputi komunikasi, promosi kesehatan dan konseling, manajemen kebidanan komunitas, advokasi, kolaborasi interprofesional, pemberdayaan perempuan, serta kemampuan mengambil keputusan secara logis, kritis, dan inovatif.

Dalam proses pembelajaran tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman memberikan asuhan pada berbagai tahapan kehidupan, mulai dari masa prakonsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir atau neonatus, bayi dan balita, kesehatan reproduksi perempuan, hingga keluarga berencana pada tingkat keluarga dan komunitas.

Rika menambahkan bahwa pelaksanaan praktik komunitas tersebut sejalan dengan arah pengembangan Program Studi Pendidikan Profesi Bidan UAP yang mengedepankan keunggulan asuhan kebidanan komplementer, penguasaan teknologi digital, dan penerapan nilai akhlakul karimah.

“Harapannya, pengalaman yang diperoleh selama praktik dapat menjadi bekal bagi mahasiswa ketika memasuki dunia profesi. Mereka diharapkan mampu menjadi bidan yang kompeten, profesional, komunikatif, dan memiliki kepedulian terhadap kesehatan perempuan, ibu, anak, keluarga, dan masyarakat,” tuturnya.

Menurut Rika, praktik di dua lokasi dengan karakteristik lingkungan yang berbeda juga memberikan pengalaman yang dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai pelayanan kebidanan berbasis komunitas. Perbedaan lingkungan praktik diharapkan mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam beradaptasi, berkomunikasi, serta menentukan pendekatan pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Program praktik komunitas tersebut sekaligus mendukung pembentukan lulusan yang mampu menjalankan berbagai peran profesional, mulai dari pemberi asuhan (care provider), komunikator, pemimpin komunitas, pengambil keputusan, hingga pengembang dan peneliti dalam bidang pelayanan kebidanan.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari pemenuhan kurikulum, tetapi benar-benar memberikan pengalaman bermakna bagi mahasiswa sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” pungkas Rika.

Pelaksanaan praktik komunitas ini sejalan dengan visi Program Studi Pendidikan Profesi Bidan UAP dalam menghasilkan lulusan bidan profesional dengan keunggulan asuhan kebidanan komplementer, penguasaan teknologi digital, dan landasan nilai akhlakul karimah.

Melalui kegiatan tersebut, UAP terus mendorong pembelajaran profesi yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengalaman nyata di masyarakat. Praktik komunitas diharapkan mampu memperkuat kompetensi profesional mahasiswa sekaligus membentuk calon bidan yang adaptif, inovatif, berintegritas, serta memiliki kepedulian terhadap peningkatan kesehatan perempuan, ibu, anak, keluarga, dan masyarakat. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x