x

banner 300250

Nyore Sandekala di Tjiboen, Merawat Tradisi dan Meneguhkan Jatidiri di Tengah Perubahan Zaman

5 minutes reading
Monday, 10 Aug 2026 14:55 87 Amin

BANYUMAS – Senja di Dusun Tjiboen, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Sabtu (8/8/2026), menjadi ruang perjumpaan lintas generasi untuk membicarakan masa depan tradisi dan jatidiri masyarakat.

Melalui Nyore Sandĕkala – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen 2026, budayawan, akademisi, seniman, pemerintah, mahasiswa, komunitas, media, dan warga berkumpul dalam sebuah rembug budaya bertema “Tradisi: Quo Vadis Pewarisan Nilai dan Orientasi Jatidiri?”

Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan tradisi, tetapi juga refleksi mengenai bagaimana nilai-nilai budaya lokal dapat tetap hidup dan diwariskan di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta pergeseran pola kehidupan generasi muda.

“Budaya bukan sekadar sesuatu yang kita warisi, tetapi sesuatu yang harus kita rawat, kita maknai, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya,” kata Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom., akademisi sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).

Menurut pria yang akrab disapa Doktor Enha tersebut, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan pendidikan, perkembangan teknologi, dan keterlibatan generasi muda. Dengan demikian, tradisi tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap memiliki makna dalam kehidupan masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–18.00 WIB itu memadukan tradisi kenduren atau slametan dengan berbagai ekspresi seni dan ruang dialog. Selain rembug budaya, rangkaian kegiatan mencakup twilight dinnerlive art painting, permainan musik etnik flute Ancient Galuh, serta kidung macapat Babad Pasir Luhur.

Rembug Budaya Membaca Masa Depan Tradisi

Rembug budaya menjadi salah satu agenda utama Nyore Sandĕkala 2026. Forum tersebut membahas posisi tradisi di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, sekaligus mempertanyakan bagaimana nilai budaya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sejumlah tokoh hadir sebagai panelis, antara lain Rianto, Maestro Lengger Lanang Indonesia dan pegiat budaya internasional; Puji Irawan, tokoh Dukuh Tjiboen sekaligus pelestari Macapat Babad Pasir Luhur; Nisa Roiyasa, Founder Rumah Cibun; Bangkit Sasongko dari LPPSLH Banyumas; Bambang Widodo, Ketua Bidang Eksternal DKKB; Nasiroen Purwokartun Mandirancan; serta Era Prima Nugraha dari Sthanaluhur Indonesia.

Pembahasan diarahkan pada upaya melihat tradisi bukan semata sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai sumber nilai, identitas, kreativitas, dan kekuatan sosial masyarakat.

Kehadiran akademisi dalam forum tersebut turut memperluas perspektif mengenai hubungan antara pendidikan, teknologi, generasi muda, dan pelestarian kebudayaan. Tradisi dipandang perlu hadir dalam kehidupan masyarakat masa kini dengan tetap mempertahankan nilai yang menjadi akar keberadaannya.

Kenduren Berpadu dengan Seni dan Babad Pasir Luhur

Nuansa budaya semakin kuat melalui perpaduan berbagai ekspresi seni. Tradisi kenduren atau slametan hadir berdampingan dengan seni lengger, kidung macapat Babad Pasir Luhur, musik flute etnik Ancient Galuh, dan seni lukis.

Kidung Babad Pasir Luhur menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut karena membawa cerita dan nilai lokal ke ruang publik. Melalui tradisi macapat, warisan tutur dan sejarah lokal memiliki ruang untuk terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat dilakukan melalui pendekatan yang terbuka dan kreatif. Tradisi tidak harus ditempatkan dalam ruang yang kaku, tetapi dapat menjadi bagian dari perjumpaan masyarakat dengan seni, pendidikan, dan berbagai bentuk ekspresi kebudayaan.

Prasasti Tjiboen Teguhkan Komitmen

Salah satu bagian penting dalam Nyore Sandĕkala 2026 adalah hadirnya Prasasti Tjiboen. Prasasti tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga dan mengembangkan tradisi, alam, serta literasi ilmu pengetahuan dan teknologi di Kampung Tjiboen.

Dalam prasasti tersebut tertulis:

“Dengan ini kami menyatakan komitmen kami untuk turut serta menjaga dan mengembangkan tradisi, alam, dan literasi iptek Kampung Cibun.”

Komitmen tersebut diperkuat melalui tanda tangan sejumlah tokoh yang terlibat dalam kegiatan.

Kehadiran prasasti menempatkan pelestarian kebudayaan tidak hanya sebagai agenda seremonial. Tradisi, lingkungan, dan literasi ilmu pengetahuan dan teknologi dipertemukan sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang tetap berakar pada budaya sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman.

Kolaborasi Lintas Komunitas

Nyore Sandĕkala 2026 juga memperlihatkan keterlibatan berbagai unsur dalam pelestarian budaya. Budayawan, akademisi, seniman, pemerintah, mahasiswa, komunitas, media, dan masyarakat Tjiboen hadir dalam ruang yang sama.

Dukungan datang dari berbagai pihak, antara lain Abdul Kholik DPD RI, Rumah Cibun, Nisa Roiyasa, Sthanaluhur Indonesia, Nurul Hidayat, Rianto RDS, Tedjo Hidora Banyuwangi, Rahman Afandi dari LPPM UIN SAIZU, Bambang Dodit DKKB, Imam-Fery Disparbud Banjarnegara, Heri Yuliadi dari Dinas Pendidikan Banyumas, DLH Banyumas, Setya Ari Nugroho DPRD Jawa Tengah, Yanuar Arif DPR RI, Koco DPRD Banyumas, Nasirun Mandirancan, Bangkit Sasongko, Kecamatan Karanglewas, Vikri Bilfest, Suara Merdeka, Sri Wulandari dari Vihara Mertadireja, Pyolita Hartadi, Tohiron KUA Lumbir, Kristiono Hadi dari TUMATA Corp, Joni Jonte Karikatur, Alik Setyawan Bumiartyou, Rahman Kamarta Flute, serta Puji Irawan Cibun and Friends.

Dukungan juga datang dari Didin Toko Damai, Kusmiyati Cibun Cuisine, Wilson Sihombing Jakarta, Ngindana Aghis Zulfa Duta Literasi, Lis Pelukis, Iman Art Painting, Norika and Friends FIB Unsoed, Nafisa and Friends Anak Baik Indonesia, Aufa and Friends Universitas Brawijaya, Fajar Landscape Jakarta, Aris Ertene dan warga Tjiboen, FEIBC Indonesia, serta Pemerintah Desa Sunyalangu.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, dunia pendidikan, seniman, komunitas, media, dan masyarakat dapat mengambil peran masing-masing agar tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sesuai konteks zaman.

Dari Tjiboen untuk Indonesia

Nyore Sandĕkala 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan budaya di tingkat dusun. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa ruang-ruang lokal memiliki peran penting dalam merawat keberagaman budaya Indonesia.

Kenduren, seni lengger, macapat, musik flute, seni lukis, hingga cerita lokal seperti Babad Pasir Luhur menjadi medium yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Pesan yang muncul dari Tjiboen adalah bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Perkembangan teknologi pun tidak harus menjauhkan generasi muda dari akar budayanya. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan apabila ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat nilai, pengetahuan, dan jatidiri masyarakat.

Melalui Nyore Sandĕkala 2026, masyarakat Tjiboen menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sebuah dusun, tradisi dirawat, nilai diwariskan, dan kebersamaan dibangun.

Senja di Tjiboen akhirnya bukan sekadar pergantian waktu. Ia menjadi simbol perjumpaan antara manusia, tradisi, seni, alam, dan jatidiri—sebuah ikhtiar kecil dari ruang lokal untuk menjaga ingatan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x