x

banner 300250

AI Harus Jadi Mitra Pembelajaran, Guru dan Pustakawan Dituntut Adaptif di Era Digital

3 minutes reading
Wednesday, 5 Aug 2026 09:38 50 Amin

PURBALINGGA – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) perlu dipandang sebagai mitra dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sebagai ancaman yang menggantikan peran manusia. Karena itu, guru dan pustakawan dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana agar tetap relevan di tengah pesatnya transformasi digital.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom., saat menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Digital Berbasis Artificial Intelligence (AI) yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Purbalingga pada 4–6 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Purbalingga, Endi Astono, S.Sos., serta diikuti pustakawan dan guru dari berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Purbalingga. Selain Dr. Nurul Hidayat, kegiatan ini juga menghadirkan dosen Program Studi Sistem Informasi Universitas Amikom Purwokerto, Dr. Jeffri Prayitno Bangkit Saputra, S.Kom., M.MSI., sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Dr. Nurul Hidayat yang akrab disapa Doktor Enha menegaskan bahwa AI merupakan teknologi yang dapat mendukung proses pembelajaran apabila dimanfaatkan secara tepat.

"Artificial Intelligence harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas belajar, memperkaya kreativitas, dan menghasilkan karya yang lebih baik, bukan dipandang sebagai ancaman yang menggantikan manusia," ujarnya.

Guru dan Pustakawan Perlu Tingkatkan Kompetensi

Menurut Doktor Enha, perkembangan teknologi telah mengubah kebutuhan kompetensi di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Oleh sebab itu, guru dan pustakawan tidak cukup hanya menguasai perangkat digital, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Sebagai rujukan, ia mengutip Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF). Laporan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi salah satu kompetensi yang paling dibutuhkan di masa depan.

Ia menambahkan, AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai aktivitas pendidikan, seperti menyusun bahan ajar, mencari referensi ilmiah, mengolah informasi, membantu proses administrasi pembelajaran, hingga meningkatkan kualitas layanan perpustakaan agar lebih efektif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis dan etika digital sehingga teknologi benar-benar menjadi alat pendukung, bukan pengganti kemampuan analisis manusia.

Kemauan Belajar Menjadi Kunci

Menutup pemaparannya, Doktor Enha menekankan bahwa keberhasilan seseorang pada era transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan untuk terus berkembang dan menyesuaikan diri terhadap perubahan.

"Karier bukan tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang mampu terus belajar, beradaptasi, dan bertahan menghadapi perubahan," pesannya.

Melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis Literasi Digital Berbasis Artificial Intelligence ini, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Purbalingga berharap kompetensi guru dan pustakawan dalam memanfaatkan AI dapat terus meningkat. Dengan demikian, teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan secara produktif untuk mendukung pembelajaran, memperkuat budaya literasi digital, serta meningkatkan kualitas layanan perpustakaan di era digital. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x