Muhammad Iqbal, Ph.D (Psikolog, Assoc. Prof Universitas Paramadina) Oleh: Muhammad Iqbal, Ph.D (Psikolog, Assoc. Prof Universitas Paramadina)
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia kerap diwarnai aksi demonstrasi yang berujung pada kericuhan dan kekerasan. Pemicu utamanya berulang kali terkait isu-isu krusial yang menyentuh langsung kehidupan rakyat, seperti kenaikan harga sembako, pajak yang memberatkan, tingginya angka pengangguran, serta perilaku elite yang dinilai tidak empatik terhadap penderitaan masyarakat. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa aksi yang bermula sebagai penyampaian aspirasi bisa berubah menjadi ledakan anarkis?
Tidak sedikit analisis yang menyebut adanya pihak yang “menunggangi” aksi massa, bahkan menjadikannya bagian dari proxy war untuk kepentingan politik tertentu. Dugaan ini tidak dapat diabaikan, sebab demonstrasi sering menjadi ajang bagi aktor politik menyalurkan agenda tersembunyi. Namun, perlu ditegaskan bahwa “tidak ada asap tanpa api”. Kemarahan massa tidak akan muncul begitu saja jika tidak ada akar persoalan nyata: ketidakadilan sosial, frustrasi ekonomi, serta respons pemerintah yang buruk dan tidak sensitif. Dengan kata lain, penunggang hanya bisa memanfaatkan momentum ketika bara kekecewaan sudah ada di tengah masyarakat.
Ilmu psikologi sosial membantu kita memahami mengapa massa bisa berubah dari sekadar penyampai pendapat menjadi pelaku kekerasan. Beberapa teori kunci menjelaskan hal ini:
Deindividuasi – Dalam kerumunan, individu merasa anonim dan kehilangan tanggung jawab personal. Identitas pribadi larut dalam massa, sehingga perilaku ekstrem lebih mudah terjadi.
Frustrasi-Agresi – Akumulasi frustrasi akibat kebijakan yang tidak adil atau kondisi ekonomi sulit, bila tidak tersalurkan dengan tepat, akan meledak dalam bentuk agresi.
Kontagion Emosi – Emosi seperti amarah menular dengan cepat di tengah kerumunan, mendorong orang yang awalnya pasif ikut terlibat.
Norma Emergen – Kekacauan melahirkan “aturan baru” di mana tindakan kekerasan dianggap sah karena dilakukan bersama.
Identitas Sosial – Massa membentuk identitas kolektif “kami” melawan “mereka” (aparat atau elite), yang memperkuat solidaritas sekaligus memperuncing konflik.
Menghadapi situasi krisis, pendekatan represif justru memperkeruh keadaan. Aparat yang menggunakan kekerasan akan menambah luka psikologis masyarakat. Oleh karena itu, strategi yang lebih efektif antara lain:
Pendekatan Persuasif – Melakukan dialog terbuka, menunjukkan empati, serta memberi komitmen nyata untuk menindaklanjuti aspirasi.
Reformasi Kebijakan – Menata kembali kebijakan agar lebih pro-rakyat, khususnya dalam mengatasi ketimpangan ekonomi yang menjadi sumber kekecewaan.
Manajemen Krisis Sistematis – Meliputi deteksi dini potensi konflik, persiapan matang, respons yang tepat saat krisis, hingga pemulihan dan pembelajaran pasca-krisis.
Komunikasi Publik yang Kredibel – Menunjuk juru bicara yang terpercaya, menyampaikan pesan dengan jujur dan transparan, serta menenangkan publik.
Keterlibatan Multi-Pihak – Mengajak tokoh agama, masyarakat, serikat pekerja, dan pemuda sebagai mediator untuk meredakan ketegangan.
Massa tidak menjadi anarkis semata-mata karena irasionalitas, melainkan karena akumulasi rasa ketidakadilan yang tidak menemukan saluran sehat. Maka, inti dari mengendalikan psikologi massa adalah membangun kembali kepercayaan sosial. Pemerintah harus mendengarkan tuntutan substantif rakyat, meninjau ulang kebijakan yang membebani, dan menunjukkan komitmen nyata terhadap keadilan.
Krisis sosial adalah cermin rapuhnya legitimasi moral. Oleh karena itu, setiap peristiwa kericuhan harus menjadi pelajaran bagi penguasa: kekuatan politik tidak akan bertahan lama jika mengabaikan suara rakyat. (*na)
No Comments