GLOBAL — Dunia jurnalisme mengalami guncangan keras, bukan dari luar, tapi dari dalam. Kritik tajam datang dari Carmela Boykin, jurnalis muda The Washington Post, dalam forum bergengsi Global Media Forum 2025.
“Ketika saya kuliah jurnalisme, kami diajari televisi. Tapi teman-teman saya bahkan tidak menonton TV,” ucap Carmela—sebuah kalimat yang mungkin terdengar sepele, namun sesungguhnya merupakan tamparan telak bagi sistem pendidikan jurnalisme konvensional yang gagal beradaptasi dengan zaman.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan dominasi algoritma media sosial, banyak institusi pendidikan jurnalisme masih berkutat dengan materi usang—seolah zaman belum bergeser. Mahasiswa masih diajari teknik membaca berita di studio televisi, sementara dunia sudah pindah ke layar vertikal TikTok dan Reels Instagram. Audiens tak lagi mencari berita di koran atau TV—mereka mencarinya di “FYP”.
Kurikulum yang Gagal Pindah Zaman
Realitasnya, banyak kampus masih memuja mata kuliah “Etika Siaran TV” atau “Penulisan Hard News”, sementara Generasi Z bahkan tak menyalakan televisi. Mahasiswa jurnalisme tidak dibekali keterampilan menciptakan konten yang bisa menembus algoritma media sosial. Mereka tak pernah diminta membuat utas viral di X (Twitter), atau edukasi 60 detik yang relevan di TikTok.
Carmela menegaskan, saat ia menanyakan masa depan TV pada dosennya, ia hanya mendapat jawaban normatif: “TV akan selalu ada.” Namun faktanya, audiensnya sudah pergi. Yang tertinggal hanyalah romantisme akademik—jauh dari relevansi.
Kesenjangan Kampus dan Kenyataan
“Pertama kali saya menulis artikel, saya harus tanya teman lewat DM. Belajar edit? Googling dan coba-coba,” lanjut Carmela.
Pernyataan itu mencerminkan betapa jauhnya jarak antara ruang kuliah dan ruang kerja. Para jurnalis muda hari ini belajar lebih banyak dari YouTube, Reddit, TikTok, dan komunitas kreator—bukan dari ruang kelas. Mereka mendidik diri sendiri setelah lulus, karena kampus gagal memberi bekal yang dibutuhkan sejak awal.
Waktunya Meretas Sekolah Jurnalisme
Kritik ini bukan sekadar keluhan, melainkan ajakan untuk revolusi pendidikan jurnalisme. Sekolah-sekolah harus berani diretas—diubah dari akar:
Studio TV diganti studio konten vertikal.
Ujian teori etika diganti simulasi krisis media sosial.
Tugas artikel diganti dengan pembuatan konten multiplatform berbasis algoritma.
Dosen digantikan oleh praktisi yang hidup dalam realitas digital.
Tanpa perubahan radikal ini, kampus hanya akan melahirkan lulusan yang hebat di atas kertas, namun tak berguna di medan tempur digital.
Jika Tak Bisa Mengikuti Zaman, Biarkan Mahasiswa yang Menyesuaikan
Di era sekarang, menjadi jurnalis bukan soal ijazah, tapi soal kemampuan menciptakan dampak dalam 30 detik. Jika institusi pendidikan masih menutup mata, para calon jurnalis akan memilih jalan sendiri. Mereka akan belajar dari dunia nyata, dari komunitas digital, dari algoritma—dan menjadikan kampus hanya sebagai latar belakang, bukan masa depan.
Carmela Boykin bukan sekadar suara individu. Ia adalah gambaran generasi baru jurnalisme yang tumbuh di luar ruang kelas. Dan jika kampus tidak siap mencetak wajah-wajah seperti itu, mungkin sudah waktunya kita menerima kenyataan: jurnalisme masa depan bisa lahir tanpa kampus.
Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit dan analis media sosial dari Indonesia bersama rekannya turut hadir dalam forum tersebut.Catatan Redaksi:
Tulisan ini bukan seruan untuk meninggalkan pendidikan, tetapi seruan agar pendidikan jurnalisme tidak terus tertinggal. Karena zaman tak menunggu kurikulum diperbarui. (*na)
No Comments