x

banner 300250

Mahasiswi Kedokteran Unsoed Soroti Meningkatnya Kasus PCOS: Penyakit Senyap yang Kerap Terlambat Disadari

3 minutes reading
Friday, 28 Nov 2025 13:29 60 Amin

Purwokerto — Salah satu mahasiswi Sarjana Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Nasywa Amania Hidayat (G1A025045), berhasil menarik perhatian melalui tulisan ilmiahnya mengenai Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) atau Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK), sebuah gangguan hormon yang umum dialami wanita usia reproduktif namun sering kali tidak disadari hingga muncul komplikasi serius.

Dalam artikelnya, Nasywa menekankan bahwa PCOS kini menjadi salah satu masalah kesehatan reproduksi yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia. Mengutip data global, ia memaparkan bahwa 11–13% wanita dunia mengalami PCOS, dengan tren peningkatan hingga dua kali lipat dalam tiga dekade terakhir. Bahkan laporan WHO menyebut sekitar 70% wanita tidak terdiagnosis, akibat rendahnya kesadaran terhadap gejala awal PCOS.

Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa wilayah Asia Tenggara menunjukkan angka lebih tinggi, yakni 52% wanita mengalami PCOS, sementara Indonesia belum memiliki data nasional yang komprehensif. Oleh karena itu, Nasywa menekankan perlunya penelitian skala nasional agar pemerintah dapat mengambil langkah strategis dalam penanganannya.

Faktor Risiko: Genetik hingga Gaya Hidup

Tulisan Nasywa menjelaskan berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko PCOS, mulai dari riwayat keluarga, diabetes melitus, hingga pola hidup tidak sehat. Ia mengutip bahwa 43% kasus PCOS berkaitan dengan faktor genetik, sementara obesitas meningkatkan resistensi insulin yang memicu ketidakseimbangan hormon androgen.

Gejala PCOS, seperti gangguan menstruasi dan hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih), sering dianggap wajar oleh banyak remaja perempuan sehingga gejala ini kerap diabaikan. Padahal, ovarium penderita PCOS biasanya memiliki banyak kista kecil dan mengalami pembesaran.

Diagnosis & Pengobatan: Perlu Deteksi Dini dan Edukasi Berkelanjutan

Nasywa menguraikan metode diagnosis yang umum digunakan, mulai dari pemeriksaan fisik, pengecekan kadar hormon, pencatatan siklus menstruasi, hingga ultrasonografi (USG) ovarium. Ia menekankan bahwa penanganan PCOS tidak hanya mengandalkan obat, tetapi juga perubahan gaya hidup seperti diet rendah karbohidrat, peningkatan konsumsi serat, hidrasi yang baik, serta olahraga teratur.

Dalam kasus tertentu, tindakan medis seperti laparoskopi ovarium hingga program bayi tabung dapat menjadi pilihan jika metode konvensional tidak berhasil.

Pentingnya Edukasi Reproduksi untuk Remaja dan Wanita Muda

Melalui artikel ini, Nasywa mengajak wanita muda untuk lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi. Menurutnya, PCOS adalah penyakit yang tampak sepele namun dapat berdampak jangka panjang jika terlambat ditangani—termasuk infertilitas, gangguan metabolik, hingga risiko penyakit kardiovaskular.

Ia menutup artikelnya dengan pesan bahwa deteksi dini dan kesadaran terhadap gejala adalah investasi kesehatan untuk masa depan, terutama bagi remaja perempuan yang rentan mengabaikan tanda-tanda awal PCOS.

Karya ilmiah ini sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa kedokteran dalam memberikan edukasi kesehatan berbasis penelitian kepada masyarakat, serta menguatkan peran universitas dalam menghadirkan generasi calon tenaga kesehatan yang peka terhadap isu kesehatan publik. (*na)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x